Connect with us

Santri dalam Bayang Bayang Masyarakat Virtual (2)

Artikel

Santri dalam Bayang Bayang Masyarakat Virtual (2)

Pada zaman dulu dunia maya dianggap bukanlah suatu realitas atau hal yang hampa. Namun fenomena yang terjadi sekarang ini menunjukkan bahwasanya media sosial menjadi realitas yang objektif. Seperti contoh kita melihat kasus Reuni Alumni 212 yang digerakkan melalui media sosial. Hal itu menunjukkan bahwasanya di dunia maya menjadi realitas yang objektif dan bukan lagi menjadi dunia semu.

Ada dua aspek yang perlu perhatikan yaitu sebagai individu yang nyata dan sebagai invidu yang berada di dunia maya. Realitas pertama adalah diri kita sebagai individu di dunia nyata sebagaimana yang kita jalani dalam bentuk jasad, ruh dsb. Kemudian yang kedua adalah cerminan dari diri di media sosial atau di dunia maya. Bisa saja seseorang tampil berbeda dan bisa saja tampil sebagai pribadi yang berbeda dari yang sebenarnya. Hingga untuk menjelaskan tentang siapa dan bagaimana diri kita harus menggunakan media-media tersebut.

Maka sebagai santri idealnya tidak menolak media sosial karena hal tersebut menjadi bagian dari realitas objektif. Maka untuk memahaminya harus mengakses media sosial. Untuk mengetahui dan memahami gerakan-gerakan tertentu maka melalui media sosial dan apa yang ada di dalamnya sudah mewakili realitas objektif.  Dengan sendirinya santri juga tidak bisa terpisahkan dari media-media dan sarana objektif ini.

Ada sebuah cerita terkait dengan dunia virtual dan berhubungan juga dengan teori Simulacra. Pada zaman dahulu ada seorang pecinta yang bernama Qais atau sering kita kenal dengan Majnun. Dia sangat tergila-gila dengan Layla. Dia merasakan kerinduan yang sangat terhadap Layla. Semua yang ia lihat dan dengar adalah diri Layla karena begitu mendalamnya kerinduan yang sangat kepada Layla. Kemudian mereka di pertemukan di padang pasir. Layla semakin mendekati Qais, spontan sebelum berhadapan Qais berteriak “berhenti, saya tidak ingin bertemu dengan anda”. Sang Layla terheran-heran tentunya, “kenapa? Bukankah engkau merindukan ku?”. Kemudian Qais menjawab “ya, aku memang merindukanmu, namun kenikmatan kerinduan itu hilang setelah aku bertemu denganmu, maka dari itu aku tidak mau bertemu denganmu. Biarkanlah aku merasakan nikmat kerinduan ini tanpa harus bertemu denganmu” jawab sang Qais.

Jean Baudrillard memiliki teorinya yang kita kenal dengan Simulacra. Teori tersebut diambil dari kata simulasi yang berati sebuah proses atau kegiatan yang menghadirkan makna yang bukan makna itu sendiri. Seperti contohnya ketika dalam ujian simulasi siding, di sana setiap orang melakukan tugasnya masing-masing. Hakim dan pengacara mereka melakukan tugas mereka sebagaimana keadaan sebenarnya. Semua itu dilakukan untuk bersimulasi yakni untuk menghadirkan makna yang bukan makna itu sendiri.

Berkenaan dengan teori ini lalu apa hubungannya dengan dunia simbol atau dunia virtual. Dalam KBBI berarti bermakna seakan-akan nyata, jadi dalam KBBI dunia virtual itu adalah dunia yang seakan-akan nyata. Makna ini akan banyak berhubungan dengan digital, elektronik dan konsumerisme. Karl Marx lebih menitikberatkan kepada produktivitas barang yang kita hasilkan maka akan meningkatkan status seseorang. Namun menurut Jean Baudrillard adalah sebaliknya, bukan menitikberatkan kepada produktivitas tapi menitikberatkan kepada konsumtifitas. Jadi semakin kita konsumtif maka status kita akan semakin naik.

Konsumtifitas inilah yang kebanyakan dinilai oleh orang. Misalkan seseorang yang memiliki HP Iphone, kemudian di sampingnya ada seseorang yang memegang HP Nokia. Keadaan ini telah menampakkan status kedua orang tersebut sangatlah berbeda. Status yang memiliki HP Iphone tentunya lebih dianggap berkelas daripada yang memiliki HP Nokia. Orang akan cenderung memandang rendah yang menggunakan HP Nokia.

Dalam hal konsumtifitas selalu hadir simbol yang dipermainkan untuk memetakan masyarakat. Antara kaya dan miskin dipetakan dengan simbol- simbol tertentu. Misalkan antara kopi Starbucks dengan kopi ABC atau Nescafe kemasan sachet yang dijual di warteg. Tentunya memiliki nilai jual yang sangat berbeda, padahal dari segi rasa tidak terlalu berbeda jauh. Namun Starbucks memiliki nilai jual yang tinggi yakni kisaran Rp50.000 karena simbol yang ada padanya. Simbol yang menandakan bahwasanya yang menikmatinya adalah orang-orang yang kaya. Maka orang yang menginginkan statusnya tinggi akan lebih memilih membeli kopi Starbucks daripada harus pergi ke warteg.

Dalam kehidupan orang terdekat seperti teman-teman yang memiliki instagram. Kebanyakan mereka yang kita kenal sering memposting kemewahan seperti makanan, alat-alat elektronik, kendaraan dsb. Hal ini untuk meningkatkan status mereka , semakin mahal fashion mereka perlihatkan maka semakin tinggi pula satus sosial yang akan mereka dapatkan. Maka sebaliknya, keseharian mereka yang bernilai rendahan tidak di-upload. Karena untuk menyembunyikan identitas miskin.

Hal yang taj jauh berbeda dapat ditemukan di televisi yang menampilkan iklan-iklan yang bermuatan idoelogi. Kebanyakan hidup masyarakat dikuasai oleh iklan yang mengandung ideologi tersebut. Siapapun sangat mudah terjebak dengan simbol- simbol yang ada di media dan seakan-akan menjadikannya ideologi yang harus pertahankan.

Khayalan kebanyakan orang yang menggerakkan atau yang sering dibahasakan sebagai kemewahan padahal realitasnya belum terjadi. Hal ini dapat kita temukan pada pendukung Jokowi dan Prabowo yang mana mereka saling menjatuhkan satu sama lain. Padahal masing-masing pasti memiliki kebaikan dan keburukan. Namun para pendukung ini seringkali saling hujat dan saling serang tentang hal-hal sederhana dan realita nya pun belum terjadi. Inilah yang menjadikan seseorang seringkali dijebak oleh khayalan dan simbol-simbol yang dibuatnya sendiri.

Media sosial seakan  membuat penggunanya harus mempertahankan pemikiran  dan bergantung kepadanya. Era virtual ini menjadikan kebanyakan santri menjadi kecanduan dan gila eksistensi di media sosial. Bahkan mereka rela meninggalkan adat kebiasaannya demi hanya untuk berfoto dengan ustadnya. Santri sekarang lebih senang berselfie bersama ustad atau yang menjadi idolanya daripada bersikap seharunya. Seakan esensi dari hubungan mereka itu adalah dengan berfoto bukan pada mencium tangan.

Kemudian tahapan selanjutnya melahirkan distance social atau jarak social, dalam bahasa lain  menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Melihat yang ada di dunia maya sebagai realitas yang nyata, sehingga kita lebih terfokus kepada dunia maya daripada lingkungan sekitar. Dalam keadaan berjaauhan dengan mudah menghubungi temab dengan media sosial ketika justru sibuk dengan gadget sendiri.

Tahapan selanjutnya adalah hilangnya ruang publik. Maka menurut Jean Baudrillard, di sinilah matinya social reality. Sebagai contoh seorang mahasiswa ketika ingin belajar maka bisa belajar walaupun tanpa bertemu dengan dosen. Atau ketika berbelanja maka tidak perlu pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli sebuah barang, cukup klik maka kita akan mendapatkan barang yang kita inginkan. Dampaknya adalah tidak ada berhubungan sosial antara penjual dan pembeli.

Dikutip dari Descartes dan Al Ghazali mengenai problem psikologis, mengatakan bahwasanya “kita tidak tahu mana yang nyata dan mana yang tidak nyata hari ini”. Jika kita tahu mana yang nyata dan mana yang tidak nyata, maka bagaimana kita menjelaskannya. Sedangkan kita hidup di dunia simbol yang mana sesuatu yang konkrit menjadi sesuatu yang sangat abstrak dan sebaliknya yang abstrak menjadi yang kongkrit. Karena kebanyakan kita dipengaruhi oleh simbol- simbol yang dibuat. Maka ada filsuf  yang berasumsi mungkin bisa saja agama juga mempermainkan simbol atau imajinasi- imajinasi tertentu untuk mengendalikan manusia agar mereka tidak melakukan suatu keburukan karena takut akan adanya ancaman seperti neraka. Atau mereka akan terdorong melakukan kebaikan hanya karena adanya iming- iming kenikmatan surga.*

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

*Tulisan ini adalah diskusi Santri Khatamun Nabiyyin dan Ust. Hasan Saleh La Ede

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top