Connect with us

Santri dalam Bayang Bayang Masyarakat Virtual (1)

Artikel

Santri dalam Bayang Bayang Masyarakat Virtual (1)

Santri adalah pelajar yang identik dengan hal-hal yang berbau keagamaan dan selalu berhadapan dengan kitab-kitab Arab klasik.  Namun bagaimana jika santri zaman sekarang sekarang dihadapkan dengan dunia virtual atau yang sering dikenal dengan dunia maya. Dunia yang serba bebas dalam mengekspose diri dan orang lain pun bisa dengan mudah mengaksesnya. Banyak pro dan kontra mengenai posisi santri dalam dunia masyarakat virtual ini. Apakah santri harus mengikutinya atau mereka hanya sekedar diam sebagai penonton setia.

Masih sangat sedikit ruang publik yang dibuka untuk membahas masalah dunia virtual ini, utamanya berkenaan dengan pembahasan bagi seorang santri. Maka sudah selayaknya kita yang hidup di era ini untuk membahas dan mengenal karakteristiknya masyarakat virtual. Karena setiap orang harus hidup sesuai dengan logika zaman, jika cara orang zaman sekarang bereksistensi adalah dengan media sosial, maka jika hendak bereksistensi harus menggunakan media sosial atau yang kita sebut dengan dunia maya.

Pembahasan santri dalam bayang-bayang dan dunia virtual memuat ada dua aspek yang perlu menjadi perhatian utama. Pertama, adalah santri sebagai individu yang belajar agama dan kedua adalah orang yang masuk sebagai komunitas atau masyarakat dunia virtual. Dua poros inilah yang menjadi pembahasan kita pada kesempatan kali ini. Sebelumnya kita akan menjelaskan mengenai pola masyarakat indonesia dari zaman ke zaman.

Tahapan yang  pertama adalah masyarakat tradisional, pada tahapan ini segala sesuatu dilakukan secara sederhana dan manual. Kemudian memasuki tahapan kedua yakni tahapan masyarakat industri, pada tahapan ini mulai ada mesin-mesin yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Sehingga faktor produksi meningkat tajam, meskipun masih sangat mendasar. Kemudian kita memasuki  tahapan ketiga yang jalani hari ini  yaitu tahapan masyarakat virtual. Masyarakat yang sangat bergantung kepada dunia teknologi informasi, bias disebut sebagai masyarakat yang ada dalam dunia layar kaca.

Pada awal-awal modernitas menyentuh masyarakat Indonesia, untuk mengakses informasi atau mendapatkan berita mengunakan televisi atau radio. Ketika ingin mengabadikan moment atau tempat tertentu menggunakan kamera foto. Demikian halnyauntuk berkomunikasi jarak jauh menggunakan telpon dan handphone. Ketiga kegiatan ini uang dulunya dilakukan dengan terpisah, namun dengan perkembangan modernisasi sehingga tiga hal ini bisa dilakukan dalam satu layar. Inilah yang dimaksud dengan masyarakat yang ada di dalam dunia layar.

Seorang mengidentifikasi diri dengan dua hal, pertama sebagai mahluk individu dan yang kedua adalah sebagai mahluk sosial. Maka ketika kita hendak tampil sebagai individu atau masyarakat sosial dalam konteks dunia masyarakat virtual yang memiliki eksistensi ketika kita meng update status. Kita menjadi terkenal dan status kita akan naik ketika kita meng ekspose diri kita di medsos. Semakin mahal barang-barang yang di upload atau semakin mewah makanan yang dibeli maka status kita semakin meningkat. Di situlah keberadaan kita akan diakui oleh orang lain. Tanpa update status dan mengekspos kegiatan sehari-hari maka kita akan dianggap mati dalam masyarakat virtual.

Apa yang kita ungkapkan tentang dunia dalam status maka itulah yang menggambarkan diri kita meskipun ada juga yang melakukannya demi pencitraan. Ust Hasan Saleh mengatakan hal seperti ini tak ubahnya menelanjangi diri di media sosial. Kita lebih senang mengekspose diri di medsos , apa yang lakukan, sesuatu yang beli dan segala hal yang berhubungan dengan kemewahan diri akan diperlihatkan di media sosial. Sehingga orang lain bisa melihat aktifitas di medsos.

Inilah aktualisasi eksistensi/keberadaan manusia dalam konteks masyarakat virtual. Karena semua orang bisa mengakses apa saja yang berkaitan dengan diri kita. Baik itu pikiran, perasaan, keadaan dsb. Saat itulah kita menelanjangi diri kita. Di media sosial seseorang memperdulikan kesadaran subjektifit tapi memperdulikan kesadaran objektif. Apa yang orang lain lihat maka itulah yang menjadi eksistensi kita.

Media sosial mengajari kita bagaimana harus keluar dari kesadaran subjektif menuju ke kesadaran objektif. Maka pada era virtual ini kesadaran objektif terletak pada apa yang masyarakat gambarkan tentang kita. Meskipun seseroang secara ekonomi miskin namun di medsos seperti instagram menampakkan sekan akan menjadi orang kaya dan bahagia.

Siapapun sulit berlepas dari teknlogi, Seakan hal tersebut wajib dimiliki dan menjadi bagian dari diri. Kita tidak pernah terlewatkan membuka akun instagram, whatsapp, facebook, dan  akun-akun sosial yang lainnya. Sejak membuka mata saat bangun tidur maka hal pertamakali dalam beraktifitas adalah media sosial yang ada di dalam handphone. Maka ikatan dengan layar sangatlah kuat dibandingkan dengan realitas kehidupan yang benar-benar dijalani. Begitu pula dengan interaksi social, handphone/ layar seakan lebih objektif dari orang-orang yang berada disamping kita. Hal ini menjadi memperlihatkan tak adanya ikatan secara emosional diantara individu sekalipun jarak mereka berdekatan. Kondisi seakan berbalik yang nyata menjadi maya dan yang maya menjadi nyata.

Hal-hal demikian terjadi karena dengan media-media itu setiap orang bisa mengidentifikasi diri di masyarakat virtual. Lalu seberapa besar orang lain mengakui diri kita sebagai realitas manusia baik sebagai individu atau sebagai makhluk sosial?

Pola masyarakat virtual dewasa ini ibarat sebuah piring yang dijual bebas di pasaran dan di dalamnya sudah terdapat makanan yang sudah disediakan. Dalam bahasa Marxian  ini adalah perebutan lahan faktor produksi. Setiap orang memiliki hasrat memproduksi diri sebagai produk yang siap jual di dunia hampa. Seperti fenomena para youtubers, mereka hendak menyajikan diri sebagai hidangan yang siap saji bagi masyarakat. Padahal konten yang mereka buat tidaklah bernilai. Bahkan sebagian para penceramah menggunakan media ini untuk memperoleh eksistensi dan pengakuannya dari masyarakat. Sangat jarang dari kalangan mereka yang tulus dan para akademisi. Kebanyakan dari mereka ditunggangi oleh faktor atau kepentingan lain.*

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

*Tulisan ini adalah diskusi Santri Khatamun Nabiyyin dan Ust. Hasan Saleh La Ede

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top