Connect with us

Pendidikan Pasca Bencana

Artikel

Pendidikan Pasca Bencana

Indonesia dilanda duka. Bencana datang seakan tiada hentinya. 5 Agustus 2018, Lombok Nusa Tenggara Timur dilanda bencana gempa bumi berkekuatan 7 SR. Berdasarkan data BNPB, hingga 13 Agustus 2018 tercatat 438 Jiwa meninggal dunia dan 1.353 terluka. (Yuliana Ratnasari, Tirto.Id: 13/8/2018). Tidak lama berselang, duka mendalam kembali terjadi. Kota Palu, Donggala dan beberapa daerah di Sulawesi Tengah diguncang gempa berkekuatan 7,4 SR yang diikuti oleh tsunami pada Jum’at, 28 September 2018. Berdasarkan data PNPB pada 3 Oktober 2018 tercatat 1.407 telah meningggal dunia. Pada 3 oktober 2018, kembali meletus gunung Soputan yang berlokasi di Sulawesi Utara. (Ibnu Haryanto, Detik.com: 03 Oktober 2018).

Berbagai peristiwa bencana tersebut, memberikan peringatan bagi kita untuk senantiasa waspada atas kemungkinan terjadinya bencana di negeri ini. Tidak kalah penting untuk menjadi pelajaran bersama bahwa diperlukan  tanggap cepat dalam menangani setiap korban pasca terjadinya bencana.

Dampak kerugian akibat bencana di Lombok dan Palu sangat besar baik dari segi infrastruktur maupun lini kehidupan lainnya. Namun, dampak yang tidak kalah penting dari bencana itu yakni dampak traumatik bagi para korban. Mereka mengalami Trauma yang dalam karena selain harus kehilangan harta benda, juga kehilangan keluarga. Hal ini tentu memiliki dampak pada mental dan psikis para korban. Maka, selain penanganan pengadaan konsumsi dan obat-obatan, juga perlu dilakukan pengobatan mental korban sehingga bisa mengurangi trauma yang mereka rasakan.

Pendidikan Pasca Bencana (PPB) sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat traumatik tersebut. pendidikan pasca bencana berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Jika pendidikan diartikan sebagai sebuah cara untuk membimbing, mengarahkan dan menjadikan subjek didik dari tidak tahu menjadi tahu, maka konteks pendidikan pasca bencana tidak bertujuan untuk menciptakan subjek didik memiliki keterampilan tertentu, melainkan bertujuan untuk mengembalikan jati diri atau kesadaran diri yang hilang akibat trauma sehingga dapat kembali normal.

Karena tujuan Pendidikan pasca Bencana dengan pendidikan pada umumnya berbeda, maka  tata cara dalam proses pendidikannya pun juga berbeda. Ada beberapa langkah umum yang dapat ditempuh dalam Pendidikan Pasca Bencana.

Pertama, Traumatic Erasing (Menghilangkan Trauma) ada pada tahap ini, pendidikan diarahkan pada kegiatan yang dapat menjadikan subjek didik lupa-diusahakan untuk tidak memikirkan terjadinya bencana-atas peristiwa-peristiwa yang terjadi saat bencana tengah berlangsung. Subjek didik dididik dengan berbagai aktivitas fisik yang dapat mengalihkan perhatian mereka. Aktifitas fisik ini dapat dibentuk dalam permainan-permainan, direct method, atau berbagai jenis kegiatan fisik lainnya. Kreatifitas sangat dibutuhkan pada tahap ini karena tahapan inilah yang paling sulit.

Kedua, Situation Awareness (Kesadaran Situasi). Pada tahap ini, subjek didik diarahkan untuk memahami situasi dan keadaan nyata atas peristiwa yang tengah berlangsung. Pada tahap ini, subjek didik tidak lagi dihindarkan dari kondisi yang ada. Subjek didik diarahkan untuk mampu menghadapi realitas bencana. Mereka dapat dilibatkan secara langsung di lokasi bencana untuk bagaiaman hidup saling membahu dengan korban lainnya.

Ketiga, Motivating (Motivasi). Pada tahap ini, subjek didik dimotivasi untuk tetap berperilaku secara positif sehingga dapat menjalani kehidupannya secara normal. Perilaku normal yang dimaksud yakni perilaku dimana subjek didik menjalani kehidupannya seperti sebelum terjadinya bencana.

Langkah-langkah di atas tentu masih sangat gamblang, namun tahapan tersebut dapat menjadi petunjuk untuk melaksanakan Pendidikan dengan tetap mempertimbangkan kreatifitas dalam proses pembimbingan. Meskipun pada umumnya, Pendidikan Pasca Bencana hanya diperuntungkan untuk anak-anak namun pendidikan ini siapa saja bisa mendapatkan Pendidikan tersebut, meskipun pada dasarnya, tingkat kadar traumatik antara orang dewasa dengan anak-anak berbeda. Namun yang menjadi titik fokus Pendidikan pasca bencana pada umunya adalah untuk anak-anak.

Oleh: Misran

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top