Connect with us

Pemuda, Ambisi Kursi Parlemen dan Perubahan

Artikel

Pemuda, Ambisi Kursi Parlemen dan Perubahan

“….kalau pemuda sudah berumur 21, 22

sama sekali tak berjuang,

tak bercita-cita,

tak bergiat untuk tanah air dan bangsa….

pemuda yang begini

baiknya digunduli saja kepalanya…”

(lr. Soekarno)

Tentu saja sangat naif bila pemuda saat ini melupakan pada sosok Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Aidit, Nyoto, Chaerul Saleh, Wikana, Jusuf Kunto,  dan Sukarni. Di mana usia muda mereka dihabiskan untuk berjuang. Perjuangan mereka meramu teks proklamasi hingga mengantarkan bangsa lndonesia sampai ke gerbang kemerdekaan seperti yang kita nikmati sekarang ini, perjuangan mereka membuahkan hasil yang begitu manis untuk segenap rakyat lndonesia. Pada konteks perjuangan mereka telah memahat sikap tegas pada dua hal; pertama adalah menolak bahwa kemerdekaan lndonesia adalah hadiah dari bangsa Jepang yang saat itu memang posisinya kalah perang dari sekutu Kedua adalah menolak patuh pada golongan tua yang terkesan konyol, kolot sekaligus lamban dalam mengambil sikap.

Kita tahu, golongan muda kala itu tidak segan mendebat golongan tua secara terbuka dengan kondisi panas, penuh emosi, dan saling mengkritik satu sama lain. Sebuah ciri khas yang mendominasi alam pikiran anak muda kala itu yakni “konfrontasi, agitasi dan propaganda”. Bahkan Soekarno dan Hatta di antara mereka kerap kali mempertontonkan perdebatan secara serius saling mengktirik satu sama lain dalam merumuskan apa saja melalui adu argumentasi, mulai dasar negara hingga susunan pemerintahan. Debat dan cara berpikir itulah yang mewarnai wajah para pendiri Republik ini, membuat rakyat sadar bahwa betapa pentingnya ide dan gagasan perlu untuk diadu dan diuji kebenarannya dalam sebuah praktek kehidupan sosial.

Mereka saling memperkenalkan keyakinan sambari mengutuk apa yang dianggapnya “kolot” entah itu kepada golongan tua bahkan sesama anak muda.  Soekarno dan Hatta wajib diperhadapkan dengan sebuah gagasan dan idenya yang sulit redah. Kelak melalui situasi itu, lahir apa yang kini dirindukan ialah keberanian, konfrontasi, agitasi dan propaganda, bahwa dasar negara jadi payung untuk semua dan pancasila lahir di tengah silang sengketa pendapat dan pandangan.

Ciri pemuda di atas kini kehilangan gemanya, benar-benar tenggelam; para politisi muda sibuk mengekor pendapat dan argumentasi ketua partainya yang secara usia sudah tua dan pandangannya sudah udzur. Kini pandangan tua dianggap sabda nampak persis tidak ada yang berani menggugat bahkan mempertanyakan karena berbeda pandangan saja susah, lihat saja partai-partai besar  bangsa ini! Apalagi yang maju pada kontestasi Pemilihan Legislatif 17 April 2019 hampir semua berusia muda. Kini banyak politisi muda yang keyakinannya selapuk tua; korupsi, menentang perubahan radikal, belum lagi malas untuk mendukung lembaga progresif, semacam KPK yang malah jadi tontonan dipukuli terang-terangan oleh politisi muda yang tergabung dalam Pansus.

Kehadiran PSI sebagai partai basis semangat jiwa anak muda dengan mengusung jargon “partai politik melenial” dalam gelanggang kontestasi Pemilu 2019 membawa angin segar dengan ekspektasi mampu memberi peluang sebagai kendaraan politik alternatif, akan tapi apakah mampu menghindar dalam pertarungan politik yang dipenuhi transaksionalisme? Tentu para politisi muda yang memposisikan diri sebagai corong perubahan lewat kursi parlemen dalam pelukan hegemoni nafsu partai yang awalnya politisi muda diklaim sebagai “ujung tombak perubahan sosial” tentu saja adalah generalisasi yang terlampau berlebihan dan omong kosong, Jika hanya mengandalkan basis suara milenial dan tugasnya hanya mengharapkan domplengan suara dari komunitas pemuda lewat media sosial.

Potret kealfaan dalam mengedapankan ide dan gagasan di atas nalar sehat  bukan hanya terjadi di dunia politik, tapi juga terjadi pada dunia pendidikan. Hampir minim sekali konfontasi pandangan di kampus antara dosen dan mahasiswa. Kelas-kelas banyak dihuni anak-anak muda yang tidak suka mendebat, mereka percaya saja dengan kata-kata dosen yang berusia lebih tua, apalagi kalau yang tua sudah mengatakan dirinya jauh “berpengalaman dan lebih banyak merasakan asam pahit garam kehidupan”. Bahkan pada dunia organisasi apa yang dikatakan senior sudah harus dipatuhi secara membabi buta, seakan anak-anak muda ini telah dianggap boneka yang harus mengikuti apa kata senior, atau mungkin mereka memang sedari awal telah mengutuk dirinya jadi boneka senior.

Jika ada anak muda yang mendebat orang yang usianya lebih tua langsung dikatakan sebagai “durhaka” Sebuah defenisi anak muda yang sangat menggelikkan. Itu sebabnya partai politik berjalan lebih mirip dengan rumah tangga; bapak atau ibunya jadi ketua partai kemudian pengurus partai adalah anak, keponakan dan beberapa anak muda jadi budak. Kampus serupa barak serdadu; mahasiswanya diminta patuhi apa kata dosen kampusnya yang kini posisinya mirip komandan.

Konfrontasi, agitasi dan propaganda sesungguhnya mampu menciptakan titik penegasan yang membedakan antara orang tua dan anak muda. Membayangkan parlemen hari ini kita seperti kehilangan “anak mudanya” karena di sana tidak muncul perdebatan yang bermutu, yang ada malah banyak membuat rakyat malu. Kita tidak habis pikir di mana anak-anak muda yang sesungguhnya secara usia memadati gedung parlemen, jujur apa mandat perubahan yang mereka bawa; sehingga banyak usianya dulu “muda berani” sekarang jadi “muda pengikut”.

Muda-muda jadi penghianat jadi musuh negara karena “mencuri uang dan waktu untuk rakyat”. Dulu ldealis sekarang malah jadi oppurtunis. Bahkan banyak kasus politisi muda jadi perpanjangan tangan kepentingan kaum pemodal lewat konstitusi yang disusun dari uang hasil keringat rakyat. Maka saat memasuki gelanggang politik yang lebih riil seperti momen pemilu 17 April 2019 kecendurungan itu mungkin akan semakin kuat, sehingga perubahan yang menentang kepentingan-kepentingan oligarki akankah bisa dilawan? Dan dengan konteks semacam ini, masih layakkah pemuda pada ambisi kursi parlemen dipercaya dapat mewujudkan perubahan yang subtansial bagi Bangsa?.

Oleh: Said Mohammad

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

  • Artikel

    Jejak

    By

    Di kesunyian aku berjalan menujumu dengan tertatih tak mampu lagi ku memisahkan antara duri dan bunga...

  • Artikel

    Eksistensial di Persimpangan Jalan

    By

    Malam yang hening, dingin, bulan yang terang tetap setia menemani musim semi tahun ini. Tepat di...

  • Artikel

    Golput Menguntungkan Siapa?

    By

    Pasca runtuhnya rezim Suharto di tahun 1998 (orde baru) kemudian digantikan dengan era Reformasi persis membuat...

  • Artikel

    Luwu Raya, Bangsa Luwu dalam Pelukan Kosmos

    By

    Diskursus kebudayaan pada hakekatnya ialah suatu penyingkapan maknawi melalui kearifan lokal (local wisdom). Di setiap daerah...

  • Artikel

    Golput Dapat Mereformasi Demokrasi

    By

    Kekecewaan tidak sama dengan sikap masa bodoh, gerakan golput justru menggambarkan keberlanjutan tekad untuk berkontribusi terhadap...

To Top