Connect with us

Paradoks Reformasi dan Keresahan Sosial

Artikel

Paradoks Reformasi dan Keresahan Sosial

Paradoks Reformasi, buku yang saya tulis belum setahun ini, diterbitkan oleh Liblitera Institute. Sepertinya menegasi kejadian politik, sosial dan eknomi secara berulang dengan tindak laku sekelompok orang yang mengatasnamakan rakyat di panggung pementasan bangsa ini.

Memeriksa sumber persoalan bangsa ini, sepertinya memang sulit untuk menentukan hasil diagnosanya secara spesifik. Akar masalahnya begitu runyam, terurai ke mana-mana dan sangat tidak terkontrol. Kita sadar betul bahwa peristiwa masa kini dengan beragam kompleksitas persoalan yang ada, tentu jauh berbeda dengan kondisi di masa lalu.

Benar yang diungkap oleh Friedrich A. Hayek bahwa ”ketika sejarah sedang berjalan, bagi kita ini bukanlah sejarah, melainkan masa kini yang sedang membawa kita ke suatu negeri yang tak dikenal, dan jarang kita dapat menangkap pertanda apa yang akan terjadi. Akan berbeda halnya jika kepada kita diberikan kesempatan kedua untuk melewati kejadian-kejadian yang sama, sambil memiliki semua pengetahuan tentang apa yang telah kita lihat sebelumnya. Betapa segala sesuatunya akan tampak berbeda bagi kita, betapa penting dan seringkali betapa mengejutkan tampaknya berbagai perubahan yang telah terjadi yang sekarang hampir tak kita perhatikan”. Mungkin beruntung bahwa manusia tak pernah dapat memiliki pengalaman ini dan tak mengetahui hukum-hukum yang harus ditaati sejarah.

Masyarakat kita telah menyaksikan satu transisi politik yang memengaruhi sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Tapi nampaknya koneksi kepentingan itu tidak terputus di masa itu hingga sekarang. Bahkan ada yang begitu percaya akan kehidupan lebih baik sekiranya arah politik bangsa ini berada ditangan Sang Otoritarian. Sejarah terus menjadi perdebatan, tapi bagi kita sama-sama meyakini bahwa tidak ada pembenaran bagi kepercayaan, selama kekuasaan berasal dari prosedur demokratis, kekuasaan tak dapat atau bisa sewenang-wenang. Tapi semuanya mungkin jika berada di tangan pemegang kuasa dengan atau tidak mengatasnamakan suara publik.

Kompleksitas masalah bangsa yang tak kunjung usai ini, masih saja terus dipilah-pilah oleh sekelompok manusia bengis untuk dijadikan sarana kepentingan. Mungkin kita semua terheran, “bagaimana sebuah masalah dijadikan sarana kepentingan?” Bagi sebagian kalangan, persoalan kebangsaan anak negeri ini yang secara terus-menerus menggerus identitas kebangsaan kita, menjadi pintu masuk segala kepentingan berkedok percepatan ekonomi dan pembangunan. Mereka terus berupaya mendorong kenyamaan persepsi dengan upaya menyesuaikan kebutuhannya. Kalau kita lihat fakta-faktanya yang telah berlalu, pasca jatuhnya Rezim Soeharto, berbagai lembaga-lembaga finacial besar terus berupaya mendorong satu mekanisme kontrol terhadap kebijakan ekonomi nasional. Walupun sebelumnya, 32 tahun kepemimpinan Soeharto dianggap sebagai anak manis yang penurut. Mekanisme kontrol oleh organisasi adidaya ini telah menciptakan satu krisis ke krisis lainnya, ia menyerap pembaruan, perubahan, penyesuaian dengan kondisi kontemporer, sambil terus memperbesar kemungkinan segelintir orang untuk meraih kecukupan material.

Lebih jauh, sungguh peran pemerintah sangat sentral untuk melakukan perbaikan di masa-masa mendatang dan tidak mengulangi kembali kesalahan yang sama. Regulasi perlu diperketat, pengendalian dan kontrol usaha swasta juga sangat perlu dikontrol. Tak boleh ada penguasaan besar-besaran pada sumber daya tertentu dan mengontrol kepentingan dengan dalih kebijakan. Saya kira pendulum memang sedang bergerak, walaupun masih tersisa pertanyaan besar, “regulasi seperti apa dan sejauh mana dan bagaimana peran pemerintah?” Pertanyaan ini akan terus hadir di benak masyarakat yang berharap besar ada perubahan signifikan dalam semua dimensi sosial di bangsa ini.

Transformasi pasti terjadi dan bertahap, sepanjang ada kemauan besar menyusuri tiap lorong gelap bangsa ini, sambil menyalakan cahaya obor kebebasan dari belenggu keterpurukan. Yang ingin kita tunjukkan sesungguhnya adalah sikap prihatin kita dengan kondisi ini, bukan terus menerus menggerutu dan setelah itu abai merekonstruksi cara pandang kita. Meskipun ini berjalan sangat lamban dan pada tahap-tahap tertentu hampir tidak kelihatan. Namun, secara akumulatif akan mengakibatkan perubahan yang nampak besar dan nyata.

Oleh: Afrianto Nurdin

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top