Connect with us

Nilai Islam dalam Adat Istiadat Masyarakat Sulawesi Selatan

Artikel

Nilai Islam dalam Adat Istiadat Masyarakat Sulawesi Selatan

Puslitbang Lektur, khazanah Keagamaan, dan Manajemen organisasi atau (LKKMO) yang dikomandoi oleh DR. Muhammad Zain Putra Daerah Asal Mandar, berhasil meluncurkan Al-Qur’an terjemah dalam tiga bahasa daerah, Bahasa Aceh, Bahasa Bugis dan Bahasa Madura. Kegiatan kali ini berhasil mendatangkan Prof. Nurhayati Rahman sebagai perwakilan dari Bugis dan penerjemah Naskah klasik I Lagaligo.

Acara inti, dibuka secara resmi oleh Mentri agama Lukman Hakim Saifuddin dan didampingi oleh Ketua Pusat Pusdiklat LKKMO Balitbang dan Diklat Kementrian Agama DR. Muhammad Zain. Dalam kesempatannya Prof. Nurhayati Rahman diberi panggung untuk berorasi. Beliau menyampaikan bahwa, Sebelum Islam masuk peradaban Sulawesi Selatan, nilai agama islam sudah tergambar jelas dalam adat dan tradisi masyarakat Bugis Makassar.

Diantara beberapa adat istiadat Sulawesi Selatan yang mengandung nilai islam adalah; Pertama, jika laki laki dan perempuan berzina, Islam mendera 100 kali untuk yang masih bujang dan Rajam bagi yang sudah memiliki pasangan sah. Dalam adat istiadat masyarakat Sulawesi Selatan tidak demikian, para pelaku zina akan dibungkus kain kafan lalu dibawa ke tengah lautan dan dibacakan sesuatu pada telinga pelaku, setelah itu ditempelkan pemberat seperti batu dan ditenggelamkan ke dasar laut. Tentunya hukum seperti itu jauh lebih kejam, membawa derita yang panjang sebelum meninggal dunia.

Kedua, Islam mengatur tentang hak waris, dua untuk laki laki dan satu untuk perempuan. Masyarakat Sulawesi Selatan tidak menentang itu, sebab dalam tradisi waris ibarat seperti beban yang harus dibawa. Termuat dalam istilah “Ma’junjung Makkunrae, Malleppa’ Urane”. Perempuan ketika membawa sesuatu selalu memang satu jatahnya dan cara membawanya diletakkan di atas kepala “Ma’junjung Makkunrae” .

Sementara laki-laki membawa beban dengan dua jatah, sehingga cara membawanya pun berbeda, yaitu dipikul satu di belakang dan satu di depan bahasanya  “Malleppa’ Urane” Memikul beban (Nabulle dalam bahasa mandar). Sepertinya teori tradisi ini masuk juga dalam pembahasan Poligami (jatah perempuan satu, laki laki dua).

Sehingga saat ajaran islam masuk, masyarakat Sulawesi Selatan tidak menggunakan teks-teks bahasa arab, melainkan Hukum Syariat yang berkorelasi dengan Hukum Adat. Jadi, sungguh sangat susah paham radikal ekstrem berkelana di dalamnya. Mereka berijtihad dengan tradisi dan adat sebagaimana mestinya.

I Lagaligo mengajarkan nilai keislaman sesuai dengan kultur masyarakat, mengajarkan sistem nilai yang baik, mengajarkan kerangka berfikir yang rasional serta mengajarkan ideologi dan budaya literasi naskah sebagai media menembus dunia pengetahuan yang lebih dalam.*

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

*Tulisan ini adalah ringkasan Orasi Prof. Nurhayati Rahman penerjemah Naskah klasik I Lagaligo

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top