Connect with us

Merawat Keragaman Indonesia

Artikel

Merawat Keragaman Indonesia

Indonesia adalah sebuah negara yang  majemuk dan multicultural,  memiliki berbagai macam budaya, bahasa, suku, adat istiadat dan agama. Negara kita sangat mendorong untuk menghargai perbedaan antara satu dengan lainnya, sehingga proses kehidupan bernegara  tetap berjalan dengan baik. Hal itu menandakan bahwa negara sangat menjunjung tinggi keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia.

Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ditandai terusirnya penjajah di tanah pertiwi ini, tidak terlepas dari semangat persatuan yang dimiliki rakyat untuk mewujudkan kedaulatan bangsa Indonesia. Rakyat memahami hanya dengan jiwa nasionalisme dan menyatukan tujuan bersama untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan, Indonesia dapat merdeka dan berdiri di atas tugu kehormatan.

Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang diawali terbentuknya organisasi Boedi Utomo pada tahun 1905 di Surabaya yangmerupakan cikal bakal lahirnya kebangkitan nasional di seluruh  bangsa.  Semakin kuatnya jiwa  nasionalisme, hingga akhirnya pada tahun 1928 para pemuda dan seluruh elemen rakyat berkumpul untuk  memproklamirkan Sumpah Pemuda, sebagai simbolisasi persatuan seluruh anak bangsa untuk melawan Belanda yang telah lama menjajah bangsa ini.

Dalam perspektif constructivisme, untuk mencapai suatu perubahan dibutuhkan seluruh unsur agar dapat membentuk satu kekuatan untuk menciptakan perubahan secara radikal. Bagi pejuang masa lalu, persatuan bukanlah sebuah hal yang mustahil bagi kehidupan manusia yang mejemuk dalam menyatukan tujuan untuk bebas dari penjajah. Persatuan tersebut menjadi perekat bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita mulia rakyat Indonesia.

Menilisik perjalanan bangsa Indonesia pasca  kemerdekaan, negara ini kerap dilanda perpecahan yang disebabkan pertentangan  antar suku, etnis, agama hingga perbedaan pendapat perumusan ideologi Negara. Pada akhirnya mengakibatkan pertumpahan darah yang tak ada habisnya. Berikut beberapa fakta sejarah membuktikan bahwa negara ini selalu dihantui perpecahan:

Pertama, pada tahun 1945-1965 terjadi pertikaian beberapa ideologi yang ada pada masa ini. Presiden  mengambil langkah untuk menggabungkan beberapa ideologi yang dianggap cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia yaitu  Nasionalisme, Agama, dan Komunis (NASAKOM). Meskipun sudah terbentuk dalam satu simbol politik Indonesia sebagai upaya mengakomodir dan mewarnai percaturan politik nasional, pada akhirnya Presiden pertama Indonesia lengser dari jabatannya. Akibatnya dari kejadian itu telah menjatuhkan banyak  korban.

Kedua, babak baru pemerintahan Soeharto yang otoriter pada tahun 1966. Militer dijadikan alat  untuk menekan masyarakat yang mengatasnamakan ideology Pancasila. Pada akhirnya rezim ini jatuh akibat gerakan mahasiswa secara massif yang ditandai dengan peristiwa reformasi  tahun 1998 .  Akibat kejadian  melahirkan banyak korban jiwa termasuk mahasiswa.

Ketiga, Indonesia memasuki babak baru dengan sistem demokrasi yang melindungi Hak Asasi Manusia. Cita-cita reformasi tersebut, ternyata tidak berbanding lurus dengan fakta yang ada. Lihat saja setiap sudut kehidupan di negri ini, kerap mata kita menyaksikan pembunuhan manusia baik individu maupun massal. Salah satunya adalah Peristiwa Ambon dan Poso mengingatkan kita bahwa negeri ini berada pada kekacauan sosial. Kejadian ini  mengingatkan kita  akan pentingnya sebuah kesadaran nasionalisme untuk mencintai bangsa ini sebagai wujud kembalinya kita sebagai bangsa yang majemuk pada satu ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila.

Keempat, kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh gubernur  non-aktif Basuki Tjaja Purnama (Ahok) telah menjadi perbincangan hangat seluruh kalangan di negri ini. meskipun kejadian ini belum mengakibatkan korban jiwa, kejadian ini membuat semua kalangan angkat bicara, mulai dari orang yang paham agama (Ulama) hingga orang tak paham agama pun ikut berkomentar. Akibat “terpeleset lidah” Ahok yang menyinggung umat Islam, telah melahirkan beberapa aksi besar-besaran  mulai dari Bela Islam Satu, Dua hingga Tiga. Akibatnya, telah banyak melahirkan sudut pandang: ada yang mengatakan bahwa  kasus ini sengaja dilindungi oleh pemerintah, juga ada yang beranggapan masalah ini akan merusak kerukunan NKRI.

Kelima, adalah pembubaran paksa ibadah Natal oleh kelompok Islam ekstrim atau biasa dikenal Pembela Ahlus Sunnah (PAS) di gedung sabuga ITB bandung pada selasa (6/12/2016). Tindakan itu merupakan salahsatu tragedi intoleran di negara ini. Dimana nilai-nilai sakralitas kegiatan peribadatan suatu keyakinan di hari besar keagamaan tidak lagi dihargai dan dihormati. Negara harus benar-banar hadir memberikan rasa aman dan nyaman kepada setiap warga negara dalam melaksanakan ritual ibadah sesuai agama dan keyakinannya karena kejadian tersebut merupakan percikan “api” perpecahan di negeri ini.

Apapun alasan dan bentuk kejadian yang telah terjadi, satu hal yang paling penting untuk disadari oleh semua elemen bangsa ini, bahwa pepecahan yang didasarkan agama telah menjadi “bom waktu”. Bangsa ini telah banyak dirugikan oleh seperti yang telah berlalu tak jarang masyarakat kehilangan tempat tinggal, harta dan nyawa anak kecil tak berdosa pun menjadi tumbal pertikaian. Kita harus sadar bahwa terciptanya bangsa dan negara ini didasarkan pada persatuan dan kesatuan seluruh anak negri  bukan perpecahan.

Penting bagi masyarakat untuk memupuk persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman dengan jiwa nasionalisme. Karena nasionalisme dapat memberikan kepada kita bahwa dalam kemajemukan bangsa ini, kita adalah saudara dan sebangsa yang diikat dengan satu pandangan kebangsaan dan terangkum dalam satu simbol kenegaraan kita “Bhinneka Tunggal Ika”  (berbeda-beda tapi tetap satu) yaitu Pancasila.

Percik  Konflik yang terjadi akhir-akhir ini harus  diakhiri secepat mungkin. Menurut  teori sosial perpecahan adalah segalah sumber kehancuran sebuah bangsa hingga, semua harus kembali pada pandangan hidup bernegara kita yaitu Pancasila. Sebab pandangan tersebut merupakan cerminan dan gambaran kepribadian manusia Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa di tengah kemajemukan.

Hal yang paling penting untuk merawat persatuan kita sebagai bangsa Indonesia yang majemuk adalah kembalinya kita sebagai  rakyat Indonesia pada satu falsafah ideologi kenegaraan yaitu Pancasila. pacasila merupakan falsafah yang dibangun oleh para pendahulu bangsa ini untuk mewujudkan tataanan masyarakat yang didasari pada nilai Ketuhanan untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi.

Kebhinneka-an kita diharapkan dapat menjaga persatuan kita berdiri di atas moral dan etika bangsa ini yang sesuai dengan nilai budaya dan agama. Kehadiran negara untuk mencegah perpecahan bangsa tidaklah cukup jika tak terbangun dari kesadaran masyarakat. Mewujudkan hal ini dapat di mulai dengan menghadirkan sikap saling menghargai perbedaan, keterbukaan, berdialog, berkerjasama dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Menghindari chauvinisme, fanatisme, dll. Menciptakan lingkungan ini adalah tanggungjawab semua masyarakat yang menjunjung nilai eksitensi manusia dalam mencaapai derajat yang tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh: EngkiKurniawan

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top