Connect with us

Melawan Tuna Literasi

Artikel

Melawan Tuna Literasi

Mendung menyapa diiringi hujan rintik, tak gentar kaki melangkah ke Perpustakaan Umum Kota Palopo, laboratorium buku singgasana para pengembara ilmu. Dalam pandangan sebagian masyarakat, perpustakaan hanyalah tempat menyajikan buku yang siap didaras oleh setiap pengunjung .

Tempat yang cukup sederhana, dengan deretan buku bacaan hasil karya para penulis tidak mengecewakan. Pemandangan para pengunjung melihat yang antusias dan memilih buku untuk didaras, meski sebagian hanya sekedar melihat judul saja.

Tidak seperti biasanya, kali ini pelatihan menulis oleh Sureq Institut menjadikan Perpustakaan Umum memiliki suasana baru. Sebelumnya pemandangan yang terlihat sekedar tempat orang-orang membaca dan akses meminjam literatur. kini terlihat berbeda dengan adanya aktivitas pelatihan yang hampir punah yaitu menulis.

Apresiasi pengelola perpustakaanpun diutarakan saat menyapa sekumpulan pemuda yang berupaya merawat budaya literasi agar tak punah. Ia berharap agar aktivitas literasi di terus digiatkan, bahkan sampai ke tingkat grass root. Menyentuh masyarakat pinggiran, pelosok dan masyarakat dengan minat baca yang rendah, agar cita cita mencerdaskan kehidupan bangsa semakin menggeliat.

Mereka yang hadir tidak sebanyak saat final di bangku perkuliahan, atau siswa yang melaksanakan upacara bendera setiap hari senin. Hal ini memberikan gambaran tentang minat literasi saat ini yang begitu rendah. Padahal aktivitas membaca dan menulis bagai cahaya untuk menerangi kegelapan, mengutuk kebodohan, usaha untuk memerangi hoaks dan memajukan bangsa.

Potret nirliterasi  saat ini bisa kita lihat dari data UNESCO mengenai indeks minat baca masyarakat Indonesia. Indonesia memiliki minat 0,001% artinya dari 1000 orang hanya 1 saja yang memiliki minat baca. Sedangkan  data Perpustakaan Nasional juga merilis minat baca kita hanya 3 sampai 4 kali perpekan, dan durasinya hanya 30 sampai 59 menit. Betapa mengerikannya, kita saat ini yang  sedang memasung budaya literasi, renggangnya hubungan masyarakat dengan buku dan perpustakaan.

Tidak heran jika  hanya sedikit orang  yang meminati  aktifitas dasn komunitas literasi  di kota ini. Tentu membiasakan  membaca dan mendidik diri untuk menulis bukan hal yang mudah, bahkan bersiaplah untuk lelah. Namun kelelahan itu adalah hukuman setimpal atas pemasungan literasi.

Banyak orang yang memiliki ekspektasi tinggi untuk hobi membaca dan menuli, sementara hambatan yang dihadapi begitu besar. Faktor lingkungan, motivasi diri, peran pendidik dan orang tua, dan perpustakaan yang bertujuan melayani masyarakat yang harusnya mampu menyentuh kebutuhan masyarakat. Faktor-faktor itu bisa saja menjadi penyebab begitu besarnya tuna literasi di masyarakat.

Kisah Bobby Ida seorang pemuda rupawan belasteran Jerman bisa dijadikan inspirasi. Dalam hidupnya Bob adalah pemuda biasa saja, pada awalnya Bob memiliki berat badan yang tidak proporsional. Sejak di bangku kuliah ia memulai pola hidup sehat, makan  teratur yang bergizi dan rutin (fitness) baik  di rumah maupun di gym. Rasa bosan dan malas selalu menghantui, namun ia tetap berjuang melawannya untuk memiliki tubuh atletis dan hidup yang sehat.

Kesabaran dan ketekunan membuahkan hasil, dari latihan tersebut perlahan terbentuk tubuh yang atletis dan hidup sehatpun dimilikinya. Kesabaran dan ketekunan itulah yang membuat Bob mampu menjadi tokoh pemuda yang menginspirasi.

Dalam dunia literasi, prinsip kesabaran, ketekunan dan melawan kemalasan yang sering berselingkuh dengan rasa bosan juga mesti dibiasakan. Sejalan dengan perkataan Dee (Dewi Lestari) bahwa menulis itu seperti fitness yang rutin dilakukan dengan ketekunan dan kesabaran. Secara perlahan  menghasilkan tubuh  atletis yang merupakan konsekuensi dari latihan. Dalam membaca dan menulispun pun harus dibangun dengan pembiasaan diri secara rutin.

Prinsip Bobby Ida dan pesan Dee (Dewi Lestari) dapat diadopsi untuk memperkuat minat literasi. Selain rutin membaca dan menulis, menerapkan pola hidup literasi juga harus hadir dalam setiap aktivitas. Memandang setiap tempat sebagai ruang literasi, dan segala sesuatu sebagai pemicu semangat literasi. Hal ini bisa diawali dengan menuliskan ide dan semua yang kita pikirkan dalam sebuah catatan kecil, membiasakan diri membaca buku dan artikel yang bermanfaat, dan mendiskusikannya. Hal-hal sederhana ini dapat melawan tuna literasi.

Oleh: Muhammad Idris

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top