Connect with us

Melacak Akar Kejumudan Di Kampus Hijau

Artikel

Melacak Akar Kejumudan Di Kampus Hijau

Kampus sejatinya menjadi ruang mahasiswa untuk terlibat aktif dalam dinamika dengan segala aturan yang dilahirkan perguruan tinggi. Keterlibatan aktif ini sebagai jalan untuk mengasah daya nalar yang sudah tentu untuk melahirkan daya kritis terhadap ruang sosial. Dalam prakteknya pihak kampus (dosen) mesti menjadi perangsang lahirnya daya kritis mahasiswa. Hingga ruang-ruang kelas dan lingkungan kampus menjadi tempat lahirnya generasi dan budaya intelektual.

Hal  serupa mesti ada dalam penerapan aturan kampus  yang menyentuh langsung mahasiswa. Budaya intelektual kampus tidak berjalan dalam komunikasi satu arah, pihak kampus adalah pembuat aturan sementara mahasiswa mesti menuruti. Komunikasi satu arah yang  melahirkan aturan ini cukuplah menjadi satu alasan untuk mematikan budaya intelektual.

Sekian lama mahasiswa tertidur nyenyak di alam mimpinya, tak tahu apa yang sedang dimimpikan sehingga  begitu lama bangkit dari tidur panjang. Ruang kehidupan kampus begitu jauh dari nuansa intelektual, tak lagi ditemukan pertukaran ide yang dibungkus dengan ilmu pengetahuan. Kita hanya menemukan ruang yang penuh dengan absurditas.

Dewasa ini di kampus hijau, tujuan sejati pendidikan yakni memanusiakan manusia telah tergerus oleh  kebudayaan konsumerisme. Label  “kampus islam” namun dalam penerapannya justru menjadi cerminan dari kapitalisme. Hal ini membawa mahasiswa pada pola kehidupan kampus yang Jumud. Semua proses dilalui melalui upaya pemaksaan atau kontrol pikiran mahasiswa. Ini dilakukan melalui kurikulum hingga aturan akademik, mengakibatkan mahasiswa menjadi individu yang patuh akan segala tindak tanduk sekalipun menundukkan rasionalitas.

Hal ini dapat kita lihat pada aturan kampus yang membatasi mahasiswa melakukan aktifitas di malam hari dengan alasan kekhawatiran adanya tindakan yang bertentangan etika. Standar moral menjadi legitimasi lahirnya aturan berdasarkan tafsiran tunggal teologi inclusive oleh salah satu guru besar di kampus itu. Tafsir yang bias ini sangat disayangkan karena akan menjadi penghambat pengembangan kreatifitas mahasiswa.

Dominasi interpretasi tunggal ini menjadikan kampus tidak lagi menjadi tempat untuk mengembangkan kehidupan yang ilmiah. Interpretasi tunggal itu menjadi alat kontrol pikiran individu yang mau tak mau diwajibkan tunduk dan patuh.

Alam pikiran individu dikontrol oleh satu narasi tunggal memastikan di dalamnya terdapat selubung kekuasaan. Hal ini dikatakan oleh Michel Foucoult dalam konsep panopticon, sebuah analisis kekuasaan di setiap institusi kehidupan termasuk pendidikan yang menggunakan metode kontrol pikiran.

Panopticon diibaratkan menara dalam sebuah penjara yang mengontrol para tahanan agar tidak melarikan diri, melaluinya sipir penjara memainkan peran vital dalam  mengontrol tubuh individu yakni melahirkan tubuh-tubuh yang patuh. Hal demikian juga terjadi dalam di kampus, tafsiran tunggal teologi itu menjadi legitimasi  dalam  menentukan standar moralitas yang harus diikuti.  Pada saat itulah pengetahuan memiliki relasi kuasa melalui tafsiran tunggal yang dilegitimasi melalui struktur yang berlaku di dalam kampus.

Panopticon melalui standar moralitas terwujud melalui pendisiplinan mahasiswa dan menjadi legitimasi bermoral  dan tidak bermoral. Standar moral itu juga menjadi representasi untuk menetukan kebenaran dalam bentuk aturan dan kebijakan kampus. Pada saat itu kampus menjadi jumud yakni kebenaran menjadi tunggal dan  seragam, tidak ada kebenaran lain diluar dari standar yang telah ditentukan.

Pendidikan kampus semestinya membuka ruang dialog, mahasiswa tidak mesti menjadi objek  aturan semata. Memberikan kebebasan berpikir  juga harus memberi ruang untuk memberikan masukan dalam menentukan visi kampus dalam bentuk aturan. Hingga aturan kampus tidak menghalangi mahasiswa dalam mengaktualkan imajinasi termasuk mengembangkan potensinya.

Mahasiswa sebagai individu yang terlahir secara otonom harus melawan bentuk kejumudan itu. Sistem pendidikan kampus hanya membawa mahasiswa sebagai objek yang larut dalam konteks sistem kampus yang jumud. Dengan itu mahasiswa sebagai individu tidak diperkenankan untuk berfikir dan menciptakan makna hidup, sistemlah yang justru menjadi tafsiran tunggal berfikir.

Oleh: Engki Kurniawan

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Ahmad

    November 21, 2018 at 1:23 pm

    Tulisan ini harus di baca Kepala kampus dan para dosen, agar mereka paham bahwa arogan posisi mereka tidak akan membawa arti dan perubahan apa-apa jika kebenaran dan etika hanya lewat cara pandang mereka. Bukan melalui pengujian yang ilmiah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top