Connect with us

Maccera Tasi’, Persentuhan Agama, Pesan Sosial dan Ekologi

Artikel

Maccera Tasi’, Persentuhan Agama, Pesan Sosial dan Ekologi

Maddika Bua dalam acara Dialog Publik dengan Tema: Maccera Tasi’ dalam persfektif Agama, Budaya, dan Sains Dalam Tradisi”, menjelaskan dalam ritual adat Maccera’ Tasi’, salah satu praktek ritualnya adalah “Massorong Warowo Malebbi'”. Acara adat Maccera Tasi’ sebelumnya menjadi polemic dimasyarakat karena dianggap mengandung kemusyrikan, hingga mendapat penentangan dari sejumlah Ustad dan Ulama di Tana Luwu.

Dalam dialog publik ini hadir delapan Pembicara dan dalam dua sesi. Sesi pertama empat orang pembicara, pihak Kedatuan Luwu diwakili Maddika Bua, Akademisi diwakili oleh Pakar Antropologi Universitas Sultan Hasanuddin (UNHAS) Prof. Hamka, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ust. Tahmid, dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Luwu Ust. Aswawi. Maddika Bua mengurai tentang filosofi, aspek historis, praktek dan makna Maccera’Tasi’. Prof. Hamka kemudian menjelaskan tentang antropologis masyarakat Sulawesi Selatan dan praktek tradisi, terutama tentang persinggungannya dengan ajaran Islam. Prof. Hamka mencoba mengurai definisi tentang ritus, seremoni, yang sakral dan profan dalam ritual. Sebagai pengantar untuk memahami praktek tradisi itu sendiri, agar lahir sebuah kesimpulan apakah ritual adat dan Islam bertentangan atau menguatkan khasanah tradisi dalam Islam. Pimpinan Pengurus Daerah Muhammadiyah menjelaskan tentang kaidah Ushul tradisi dalam konteks syariat Islam,untuk menemukan benang merah tentang bertentangan atau tidaknya tradisi dan ajaran islam. Sementara ketua MUI menjelaskan ayat-ayat yang menjadi rujukan tentang perbuatan Syirik (mempersekutukan Allah SWT).

Sesi kedua serupa dengan sesi pertama juga diisi oleh empat pembicara. Opu Andi Saddakati perwakilan Arung Senga membahas tentang makna simbol-simbol dalam acara Maccera’ Tasi’. Prof. Andi Ima Kesuma Akademis Universitas Negeri Makassar (UNM) membahas tentang Maccera’ Tasi’ dan pesan profetik. Dr. Ilyas membahas dalam Persfektik Hukum utamanya tentang local wisdom (kearifan lokal) menjadi dalam membuat produk hukum, seperti pesan yang terkandung dalam Tradisi Maccera’ Tasi’. Pembicara terakhir Dr. Suedi Akademisi Universitas Cokroaminoto Palopo, menjelaskan tentang pesan penjagaan ekologi dan lingkungan dalam tradisi Maccera’ Tasi’.

Salahsatu hal yang menarik dalam dialog publik ini adalah proses Singkarume’, yang dipandu langsung oleh Dr. Suedi, sebagai moderator. Singkarume’ adalah dialog khas Luwu yang dalam bahasa lokal anak sekarang adalah dialog “Sipakacumpu” atau berdialog Langsung, fokus dan tidak melebar hingga tuntas antara satu pihak dengan pihak yang lain. Dalam konteks ini antara penyaji materi dengan audiens, terutama yang berbeda dalam pendapat. Singkarume’ juga pernah dilakukan pada masa awal Islam masuk ke Luwu dibawa oleh tiga Datok (tiga Wali asal Yaman yang sudah lama berdiam di Minangkabau). Singkarume’dilakukan oleh Tokoh Adat Maddika Bua dan Dato’ Sulaiman beserta kedua saudaranya. Mereka berbalas pantun atau dialog dengan bahasa sastra bercorak tasawuf, hingga akhirnya Maddika Bua bisa menerima penjelasan ketiga Datok, kemudian menerima Islam. Lalu diperhadapkan pada Datu Luwu, yang kemudian juga melakukan hal serupa (Singkarume’).

Sebelum proses Singkarume’ dalam Dialog Publik, telah banyak uraian tentang prosesi pelaksanaan Maccera’ Tasi’. Para pemangku agama beranggapan bahwa istilah Maccera’ Tasi’ perlu diganti untuk menghindari persepsi negatif karena “Maccera” berarti meneteskan darah.

Kata Maccera’ itu berasal dari kata “Cera’” atau darah, “ma” menunjukkan kata kerja, berarti “Maccera’” adalah mengeluarkan darah. Sementara jika melihat referensi kuno, terutama teks Kitap I La Galigo, “Cera’” itu berasal dari kata “Cero”, missal pada kata Cero na Dewata (Turunan berdarah dewata). Sementara “Cero” sendiri dalam kosakata Luwu lama berarti Lumpur. Cero yang arti sesungguhnya adalah lumpur, kemudian tereduksi menjadi Cera’ yang kemudian berarti darah. Sementara Maccera’ yang sebelumnya bearti meneteskan darah, mengalami reduksi makna dikalangan masyarakat Bugis. Hampir setiap acara syukuran yang berkaitan dengan prilaku tradisi disebut Maccera’. Maccera’ hari ini lebih identik diartikan sebagai syukuran. Oleh karena itu tdk ada persoalan dengan istilah “Maccera'”.

Salah satu prosesi dalam acara Maccera’ Tasi’ adalah memasang Ance’ (sebuah bangunan seperti baruga yang tinggi) yang didirikan tepat di mana air laut mengalami surut terjauh. Dalam pemahaman masyarakat Luwu tempat air laut surut terjauh itulah yang menjadi batas antara darat dan laut. Di sanalah nantinya puncak prosesi “Maccera tasi’” dilaksanakan yaitu memberi makan emas pada dua ekor ikan “Tiko” (jantan betina). Dewan adat dalam pesta Maccera Tasi’ sebelumnya telah merubah dengan hanya memberi air rendaman emas, dan sedikit emas bubuk, kemudian melepasnya ke laut. Ikan Tiko dalam kepercayaan masyarakat Luwu dianggap sebagai Datunna Balewe (Raja Ikan), kemudian melakukan prosesi “Massorong Warowo Malebbi” yaitu membuang kepala kerbau ke laut.

Sesungguhnya istilah “Massorong Warowo Malebbi” ini muncul setelah kedatangan Islam. Sebelum Islam kepala kerbau adalah persembahan kepada penguasa laut. Tapi setelah kedatangan Islam terjadi perubahan persepsi, dengan memberi Istilah “Massorong Warowo Malebbi'”. Ada proses Islamisasi dengan melakukan desakralisasi pada kalimat ini. Warowo berarti sampah, Malebbi’ itu berarti mulia. Massorong Warowo Malebbi berarti membuang Sampah yang dimuliakan. Hal ini seakan memberi pesan bahwa orang-orang telah berkumpul mensyukuri berkah dari Allah SWT dengan hasil laut, dan memotong kerbau sebagai simbol persatuan, perdamaian, persaudaraan, kebersamaan, dan kekeluargaan untuk dikonsumsi bersama-sama. Setelah itu, sisanya dibagikan ke laut berupa sampah/ sisa, tapi meskipun begitu sampah ini adalah sesuatu yang mulia, karena dia adalah kepala kerbau, lebih tepatnya tengkorak bagian atas meliputi tanduknya.

Perlu diketahui Maccera Tasi’ juga momentum perdamaian jika masih ada diantara kelompok nelayan yang berselisih. Maka acara Maccera Tasi’” tidak akan dilangsungkan bila masih ada perselisihan yang belum diselesaikan. Oleh karena itu sebelum Maccera Tasi’ dilakukan, maka sehari sebelumnya dilakukan prosesi “Mappaccekke Wanua” (mendinginkan negeri), yang prosesinya dimulai dengan “Mallekke Wae” (mengambil air suci) untuk nantinya secara simbolik dipercikkan di beberapa penjuru negeri. Kemudian malamnya dilakukan prosesi “Maddoja Roja” (berzdikir semalam suntuk oleh sembilan Ulama/Ustad).

Dalam sejarahnya semua doa’ yang dibacakan dalam acara Maccera Tasi’, menurut Dewan Adat dibuat dan ditulis oleh Datok Sulaiman yang lafaznya berbahasa bugis. Datok Sulaiman adalah penyebar Islam yang berhasil mengislamkan Datu/Raja Luwu. Beliau Ahli Tasawwuf, sekaligus Ahli Fiqh. Namun beliau lebih dikenal dengan sebutan Tuan Feqih, seperti yang tertulis dalam Lontara Wajo.

Prosesi Maccera Tasi’ yang dimulai dengan kumandang Adzan di empat penjuru Ance’, memiliki pesan sosial dan ekologis. Pesan sosial terlatak pada pesan untuk mempererat tali silaturrahmi, kekeluargaan, kegotong royongan dan perdamaian di antara kelompok nelayan. Serta mempertemukan antara masyarakat nelayan dari pesisir dengan petani dari daratan. Dengan memotong kerbau yang dihidangkan dan dikonsumsi bersama sebagai simbol kekeluargaan dan persaudaraan.

Sementara pesan Ekologisnya pada masa jeda para Nelayan tidak boleh menangkap ikan setelah prosesi Maccera Tasi’ selesai, di masa lalu jeda itu berlangsung selama tiga bulan lamanya.  Perubahan zaman yang memastikan tuntutan hidup juga berubah, diganti menjadi hanya tiga hari. Hal ini bertujuan untuk memberi kesempatan pada ekosistem laut beristirahat dari gangguan manusia dan berkembang biak. Dahulu di kalangan petani dikenal hal yang sama, disebut Puasa Tanah selama 3 bulan, agar tanah bisa istirahat dan meregenerasi diri. Sementara pemasangan Ance’ tempat prosesi ditempatkan di tempat air laut surut terjauh dimaksudkan agar tidak menganggu mangrove/ bakau di pinggir pantai, tapi juga tidak menggangu karang di laut yang lebih dalam.

Mestinya kedepannya ritual-ritual adat pemaknaannya ditekankan pada hal yang profan yaitu  pesan sosial dan ekologis yang terkandung pada simbol-simbol ritual, namun yang dihilangkan adalah kesakralan yang dihubungkan dengan kekuatan supranatural selain dari Allah SWT. Bisa saja prosesinya ditambah seperti setelah melepas Ikan “Tiko” dan benih ikan, dan acara sudah dilakukan di pinggir pantai. Setelah itu secara bersama-sama  membersihkan sampah di pantai yang bias mengotori laut. Penekanan pada pesan sosial dan ekologis tersebut yang membuat prosesi Maccera Tasi’ ini masih bahkan sangat perlu dilestarikan. Sehingga menjadi momentum tahunan untuk mengingatkan orang tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam sebagai anugrah dari Sang Maha Pencipta.*

Oleh: Syamsul Hilal

*Tulisan ini adalah catatan singkat tentang Dialog Publik “Maccera Tasi’ dalam persfektif Agama, Budaya, dan Sains Dalam Tradisi”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top