Connect with us

Luwu Raya, Bangsa Luwu dalam Pelukan Kosmos

Artikel

Luwu Raya, Bangsa Luwu dalam Pelukan Kosmos

Diskursus kebudayaan pada hakekatnya ialah suatu penyingkapan maknawi melalui kearifan lokal (local wisdom). Di setiap daerah memiliki kearifan masing-masing. Secara gamblang,  ketidaktahuan terhadap kearifan lokal kita ialah bencana besar terhadap wujud mental dan peningkatan jiwa.  Mengapa?  Sebab melalui alam dan manusianyalah kita memiliki jasad hingga mampu bersama-sama berkorban dalam barisan perjuangan demi tanah.

Dalam studi falsafah pergerakan, penekanan atas kesadaran begitu penting dalam setiap tindak-tanduk manusia. Kesadaran yang mampu menyentuh lapisan Ketuhanan (transenden) dan lapisan Alam (imanen).  Disanalah peran manusia dalam menjaga keseimbangan (wa ma baena huma). Tentu inti dari yang ingin saya sampaikan ialah, membincang transendensi tanpa imanensi ialah idealisme, begitu juga membincang imanensi tanpa transendensi ialah materialisme.

Olehnya itu, mencintai Tuhan ialah kalimat bersyarat demikian juga dengan mencintai alam. Pernyataan di atas sama jika saya mengatakan bahwa jika air mencapai suhu 100 OC maka memastikan dalam benak kita bahwa air itu mendidih.  Mencintai alam juga seperti itu. Mencintai alam ialah tanda dalam kecintaan kita terhadap manusia dan Tuhan.  Cinta kepada manusia adalah tanda bahwa kita mencintai alam dan Tuhan. Cinta Tuhan adalah tanda bahwa kita cinta pada alam dan manusia.

Dengan itu, berdiskusi terkait kebudayaan,  maka kita akan menyinggung Tuhan,  manusia (jiwa)  dan alam (kosmos). Sungguh banyak kearifan di Tana Luwu   yang telah dipublikasikan sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah harum ini.  Dan yang paling penting dalam setiap kebudayaan ialah etika,  moral,  harmonisasi,  altruisme,  menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan perbedaan (pluralistik), bukan sebaliknya.

Menyentuh gerakan atas pemekaran Bumi Sawerigading, mestinya dengan nilai keharmonisan,  kemanusiaan,  altruisme sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Hal ini sebagai bentuk bahwa kita adalah makhluk yang menyatu dengan kosmos Tanah Luwu. Namun itu begitu sulit, mengapa?  Setiap orang menggebu-gebu dalam perjuangan untuk masyarakat dengan jalan pemekaran Provinsi Tanah Luwu.

Saya sering menyampaikan,  bahwa masyarakat Tana Luwu bukan hanya mahasiswa,  melainkan setiap orang yang berada dan berdiri di Tana Luwu.  Manusia-manusia yang hidup, bekerja dan menikmati hasil alam hingga kepalanya menjadi keras,  menikmati hasil perjuangan, pengorbanan dan  pertumpahan darah oleh para leluhur. Dengan itu, perjuangan atas pemekaran ialah perjuangan setiap orang yang berada di Tana Luwu.

Kembali pada falsafah pergerakan yang fundamennya ialah kesadaran.  Untuk tidak menjadikan proses gerakan yang berdarah dan menimbulkan korban jiwa, hingga perlu secara bersama melakukan proses penyadaran kepada mahasiswa, pemerintah dan rakyat. Hal ini juga akan mengurangi pertentangan tujuan antara rakyat, pemerintah dan mahasiswa dalam usaha pemekaran Provinsi Tana Luwu.

Dengan gerakan kesadaran atas pentingnya pemekaran Provinsi Tanah Luwu inilah, kita akan sama-sama bertanggung jawab secara transendent dan imanen, kepada Tuhan dan alam.

Gerakan kita ialah gerakan kesadaran, bukan gerakan atas sentimen dan ekonomi semata.  Gerakan masyarakat Tana Luwu, ialah gerakan kebudayaan dengan kearifan lokal yang harmonis,  egaliter,  altruisme,  bermoral dan manusiawi. Inilah gerakan masyarakat Luwu dalam pelukan kosmos (alam)

Oleh: Agung Ardaus

Aktifis JAKFI Kota Palopo

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top