Connect with us

Langit Pun Tahu

Artikel

Langit Pun Tahu

Aku menatap wajah ibu yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Sudah seminggu, ibu dirawat di rumah sakit dan sudah seminggu pula semenjak kepergiaan ayah untuk selamanya.

Kepergian Ayah yang begitu mendadak telah menorehkan luka yang teramat dalam di hatiku dan juga d hati ibu. Segala asa yang kumiliki meleburkan menjadi buih-buih kepedihan yang teramat besar.

Aku merasa seketika duniaku berhenti berputar. Orang yang begitu ku andalkan dalam hidupku untuk segala hal pergi dan takkan pernah kembali. Takkan lagi ku lihat senyumannya, ku dengarkan suaranya bahkan kurasakan amarahnya tiap kali aku pulang malam.

Kenapa begitu mendadak? tanpa pertanda.

Kenapa begitu cepat? Aku belum sempat membuatnya bahagia.

Bagaimana ibu bisa berakhir dengan terbaring tak berdaya seperti saat ini? Ibu kehilangan separuh jiwanya. Separuh jiwanya pergi untuk selamanya.

Saat ini hatiku begitu hancur dengan kenyataan yang ada.

Ayahku pergi dan Ibuku meratapinya

Aku membenci Ayah

Aku mengasihani ibu

Aku membenci takdir

Aku merasa semua ini tak adil

Bahkan ku pertanyakan ketentuan Tuhan!!!

Tak kuasa kutahan segala kepedihan ini, air mataku pun tak mampu lagi untuk menetes. Segala perkataan dari kerabat yang sekedar untuk memberi kekuatan tak dapat mencairkan kepedihan dalam hati yang telah menjelma menjadi tembok keputus-asaan.

Aku tak punya teman berbagi karena satunya-satunya tempat bersandar selama ini adalah kedua orang tuaku. Aku tak memiliki seorang kakak ataupun seorang adik.

Saat ini jalan keluar yang kufikir paling tepat untuk mengakhiri kepedihan ini adalah menghentikan nafas, menghentikan segalanya dan aku ingin kembali pada-NYA.

Aku Gila? Ya ku sudah gila

Sudah beberapa hari ini ide gila itu menyelimuti fikiranku.

Kulangkahkan kaki mendekati ibu, menatap wajahnya yang tengah terlelap dengan seksama dan mungkin untuk terakhir kalinya.

“Terima kasih ibu untuk segalanya, maaf aku harus pergi, aku tak mampu bertahan lagi” Ucapku lirih sambil ku kecup keningnya.

Aku berjalan keluar sambil memikirkan cara untuk mengakhiri hidupku tanpa rasa sakit yang begitu menyiksa. Kemudian sebuah ide melintas, aku akan membeli sebuah racun dan kemudian meneguknya hinggah habis.

Aku terus berjalan melalui koridor rumah sakit, terlihat seorang perawat wanita tengah tersenyum kearahku. Mungkin ia telah akrab dengan wajahku, karena seminggu ini aku selalu tak sengaja bertemu dengannya. Kubalas senyuman itu seperti biasanya.

Sesampainya di pintu depan, ku hentikan langkah dan manatap langit yang begitu gelap dan terlihat sekumpulan awan hitam bergemuruh. Tak butuh waktu yang lama tetesan hujan pun turun bahkan seketika menjadi lebat.

Rasa kesal melanda, bagaimana bisa hujan turun disaat seperti ini?

Aku pun memutuskan untuk menunggu sejenak hingga hujan reda. Kufikir ini kali adalah saat terakhir bisa melihat tetes air yang turun membasahi bumi.

Aku memandangi satu persatu orang yang berlalu dihadapanku. Ada yang berlari begitu sigap untuk menghindari hujan. Seolah tetesan hujan itu akan melukainya. Ada pula yang membiarkan tubuhnya dibasahi hujan. Seolah tetesan hujan itu begitu berarti untuk di lewatkan.

Tiba-Tiba perhatianku tertuju kepada seorang wanita paruh baya yang tengah berjalan dibawah hujan, yang terlihat ganjal bukan karena ia membiarkan air hujan membasahinya begitu saja. Tetapi tatapannya yang begitu kosong bahkan ia tak memperdulikan sebuah mobil yang tengah melaju kencang dan kemudian berhenti mendadak karena dirinya. Bahkan terdengar pengemudi mobil itu sedang memaki namun ia hanya terdiam dan terus berlalu.

Aku mencoba menahan diri untuk tidak menaruh perhatian pada apa yang sedang terjadi tapi ku lihat tak ada seorang pun yang menunjukkan kepeduliannya. Setelah cukup lama aku bertarung melawan kata batin akhirnya kuberlari dan menghampiri wanita itu yang terlihat tengah terduduk di pinggir toroar jalan.

Sesampainya dihadapan wanita itu, dengan perlahan aku pun segera duduk disebelahnya, terlihat tatapannya kosong dengan mata yang begitu sembab. Setelah ku lihat wajah wanita itu dari dekat, ku fikir ia semuran dengan ibuku.

“Permisi..!”ucapku perlahan berusaha untuk tidak membuatnya terkejut.”Ada apa? Apa ibu ada masalah? ”

Wanita itu kemudian menoleh perlahan dan menatapku, ia tak mengatakan sepatah katapun, namun tatapannya begitu pilu . Aku merasakan ada begitu banyak kepedihan yang tengah ia tangggung. Tak lama ia menatapku kemudian tangisannya pun pecah. Terkejut, a tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku pun memberanikan diri untuk mengelus pundaknya dan kemudian ia pun segera memelukku erat. Kubiarkan ia menumpahkan segala tangisnya dalam pelukanku dibawah guyuran hujan tak terus membasahi.

Sesekali kuelus pundaknya dan terlihat setiap orang yang melewati kami, menatap dengan heran. Hujan reda, matahari pun mulai menunjukkan sinarnya yang sejak tadi bersembunyi di balik awan hitam.

Wanita itu melepaskan diri dari pelukanku, tangisnya pun terhenti. Terdengar suara nafasnya tertahan dan kemudian ia tersenyum. Senyuman itu begitu dipaksakan, aku tahu. Ia kemudian menatap lurus kedepan sambil menghembuskan nafas panjang.

“Gadis muda” Terdengar suara parau miliknya” Terima kasih banyak sudah meminjamkan pelukanmu untuk orang tua ini!”

Aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku memilih diam dan menunggu kalimat selanjutnya.

“Apakah kau tak ingin menanyakan sesuatu?” Tanyanya lagi.

“Bertanya sesuatu?” aku sedikit bingung dengan ucapannya itu.

“Kenapa aku menangis? Dan apa yang membuatku begitu terluka?” kata wanita itu dan kemudian kembali tersenyum kearahku

“Mau kah kau menceritakannya?” Tanyaku kemudian.

Wanita itu tak segera menjawab. Ia menatap langit. Cukup lama terdiam, sampai ia pun menatapku kembali.

“Beberapa hari yang lalu, aku kehilangan anak bungsuku karena sebuah kecelakan, Ia korban tabrak lari” Ucap wanita itu datar.

Aku begitu terkejut saat mendengarnya, seketika aku teringat kepada Ayahku. Aku pun bisa merasakan kepedihannya, kehilangan keluarga yang begitu berharga untuk selamanya. Seketika aku merasa tak sendiri, ada seseorang yang juga merasakan pedihnya kehilangan.

“Hari ini aku datang kembali, untuk mengambil barang-barang miliknya, yang dikenakan saat ia merenggang nyawa” Aku masih terdiam dan terus mendengarkan cerita wanita itu.

“Beberapa hari terakhir aku sudah mengikhlaskannya dan menerima semua kenyataan ini. Tapi setelah aku mencium aroma tubuhnya dari baju yang ia kenakan saat terakhir kali seketika hatiku rasanya hancur dan aku tak mampu menerima kenyataan ini” Wanita itu kembali meneteskan air matanya.

Aku segera meraih tangannya dan kugenggam erat, seolah ingin memberinya kekuatan kepadanya. Aku merasa begitu pilu melihatnya.

“Tahukah kamu, seorang anak mampu hidup tanpa orang tuanya. Tapi orang tua tak mampu hidup tanpa anaknya”ucap wanita itu pelan dan entah mengapa tepat mengenai hatiku.

“Ibuku!” Bisikku pelan, seketika teringat pada ibu yang terbaring sakit. Bagaimana jika ibu berakhir seperti wanita ini? Tanyaku dalam hati

“Bertahanalah bu, semua akan berlalu, kepedihan ini akan sembuh karena seperti kebahagian yang tak abadi begitu pula dengan kesedihan” Sebuah kalimat keluar begitu saja dari mulutku mencoba menguatkannya.

“Terima kasih gadis muda, jika kau tak menemaniku saat ini dan mendengarkan ceritaku mungkin…,” Ia tak melanjutkan kalimatnya dan kemudian tertunduk menahan air matanya.

“Mungkin apa?”tanyaku penasaran.

Wanita itu terlihat menahan senyumnya “kau tahu, beberapa jam yang lalu aku sempat berniat untuk mengakhiri hidupku! Ya tuhan, aku khilaf” Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Aku begitu terkejut seketika merinding. Bagaimana bisa aku tanpa sengaja menyelamatkan seorang yang berniat mengakhiri hidupnya?

Aku tak mampu membayangkan jika ia benar-benar melakukannya.Seketika aku pun tersadar bahwa niatku untuk mengakhiri hidup adalah niat yang terburuk.

“Sekali lagi terima kasih nak, aku harus tetap kuat dan tetap hidup karena masih ada orang-orang yang membutuhkanku. Suamiku dan anak sulungku” ucap wanita itu sambil menunjuk kearah dua orang pria yang tengah berlari ke arahnya. Seorang pria paruh baya dan seorang pria yang terlihat seumuran denganku.

“Ohya kemanakah kau akan pergi? Tadi aku sempat melihat mu berdiri sambil menatap jalan” Ia bertanya padaku

Aku tak menjawab dan kemudian segera bangkit dari dudukku

“Aku hanya sedang merasa bosan, jadi kupikir untuk keluar dan mencari angin” Jawabku yang jelas sedang berbohong

“Siapa yang sakit?”

“Ibuku” jawabku singkat

“Semoga ibumu lekas sembuh, tolong sampaikan salamku padanya dan katakan pula bahwa ia telah membesarkan seorang anak dengan baik” ucap Wanita itu sambil tersenyum

“Terima kasih dan akan kupastikan pesan darimu sampai kepadanya”

“Gadis muda jangan pernah menyerah akan hidupmu, kau tak sendiri Tuhan akan selalu ada untukmu. Seperti langit yang selalu tahu bahwa bunga-bunga ingin tetap hidup meski matahari terus menyinarinya dan kemudian ia menurunkan tetesan hujan padanya” ucapnya  sambal tersenyum.

Air mataku hampir menetes saat kudengar ucapan wanita itu. Sambil tersenyum kearahnya kuanggukan kepala.

“Aku permisi” Aku pun segera berlalu meninggalkan wanita itu dan tak lama kemudian menoleh kembali kepadanya, terlihat ia telah bersama dengan anak dan suaminya.

Aku segera berlari melewati koridor rumah sakit, ingin segera menemui ibu yang masih terbaring. Dalam hati aku bergumam “Terima kasih langit atas hujan-Mu, dan langit sampaikan rasa syukurku kepada pencipta-Mu, ku kembali hidup setelah berfikir untuk mati”

Langit pun tahu, Tuhan tak pernah membiarkanku sendirian, tak pernah menciptakan sesuatu tanpa arti, seperti hujan lebat yang turun dan menyelamatkanku, aku tak sendiri dan langit pun tahu, aku harus tetap hidup.

Oleh: Musfirah Hadisul

Continue Reading
You may also like...
1 Comment

1 Comment

  1. Arafat

    Desember 22, 2018 at 10:49 pm

    Subhanallah
    Tulisan yg begitu inspiratif.
    Lanjutkan.. pembaca pun masih membutuhkanmu..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top