Connect with us

Kontekstualisasi Doktrin Husnuzhon dan Su’uzhon

Artikel

Kontekstualisasi Doktrin Husnuzhon dan Su’uzhon

Sabda Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Idza Astaula As-Sholahu Ala Az-Zaman Wa Ahlihi Tsumma Asa’a Rojulun Az-Zhonna Bi Rojulin Lam Tazhar Minhu Khazyah Fa Qod Zholama, Wa Idza Astaula Al-Fasad Ala Az-Zaman Wa Ahlihi Fa Ahsana Rojulun Az-Zhonna Bi Rojulin Faqod Garrara”.

Artinya: “Apabila kebaikan/perbaikan itu yang meliputi waktu dan penghuni di zaman itu, kemudian ada seseorang yang berburuk sangka kepada orang lain, dan tidak nampak darinya dosa/kejahatan, maka sungguh dia telah menzholimi. Apabila kerusakan (hal yang menjauhkan diri dari allah) yang menguasai waktu dan penghuni zaman itu, dan seseorang yang berbaik sangka kepada seseorang maka dia sedang tertipu”.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengajarkan kita dua kekuatan prasangka yaitu  Husnuzhon (prasangka baik) Su’uzhon (prasangka buruk). Apakah dua persangkaan ini baik digunakan kepada manusia lain tanpa mengetahui kondisi? Terlalu ber-Husnuzhon juga akan mencelekai diri sendiri. Sang Guru (Ust.Akbar Saleh) memberi contoh sederhana orang yang datang bertamu jam 02.00 dini hari di sebuah rumah mengaku dirinya bukan penjahat, hanya sebagai orang yang butuh tempat tinggal tapi membawa mobil truk. Ketika menggunakan prasangka yang baik pada kondisi ini, maka sangat potensial penghuni rumah bisa jadi korban kejahatan dan aniaya diri. Apalagi zaman edan hari ini menggunakan prasangka baik kepada semua manusia adalah kezholiman terhadap diri sendiri.

Contoh lain adalah berprasangka baik kepada kenalan di dunia maya mengajak bertemu dengan dalih silaturahmi, atau penjual online yang mengiming-imingi hadiah dan bonus serta harga barang yang sangat murah, sementara penipuan di dunia virtual sangat merajalela dan banyak yang menjadi korban. Atau seseorang datang tiba tiba meminta pertolongan untuk meminjam motor, tidak kenal sebelumnya siapa dan dari mana asalnya. Jika semua kondisi seperti ini prasangka baik lebih condong kita gunakan, sama saja bunuh diri.

Lalu bagaimana dengan perintah Agama yang menganjurkan berprasangka baik? Apakah ada penempatan pada kondisi tertentu? Atau haruskah berprasangka buruk kepada semua orang yang belum dikenal?. Jika dua kekuatan prasangka ini salah penempatan maka problem demi problem akan terjadi, tatanan masayarakat pun akan terganggu, teraniaya menjadi hidangan setiap harinya. Namun ada juga yang bersikeras mempertahankan prasangka baik dengan dalih tidak apa-apa jika memang kenyataannya berbalik dengan prasangka baik, karena menjadi perintah islam dan pasti Allah mengganti sesuatu yang lebih baik lagi jika memang demikian adanya. Apakah doktrin prasangka baik ini benar?

Doktrin seperti ini jelas salah/ keliru, Sayyidina Ali bin Abi Thalib memperingatkan bahwa tidak semua tempat dan kondisi kita harus ber Husnuzhon, dan tidak semua juga tempat dan kondisi kita harus ber Su’uzhon. Dua prasangka ini memiliki tempat masing masing. Kapan kita ber-husnuzhon? dan kapan harus ber-su’uzhon? Salah menempatkan dua kekuatan prasangka ini malah menjadi boomerang bagi diri sendiri, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

“Idza Astaula As-Sholahu Ala Az-Zaman Wa Ahlihi Tsumma Asa’a Rojulun Az-Zhonna Bi Rojulin Lam Tazhar Minhu Khazyah Fa Qod Zholama”. Artinya: “Apabila kebaikan/perbaikan itu yang meliputi waktu dan penghuni di zaman itu, kemudian ada seseorang yang berburuk sangka kepada orang lain, dan  tidak nampak darinya dosa/kejahatan, maka sungguh dia telah menzholimi”.

Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib menjadikan kebaikan dan perbaikan sebagai tolak ukur penempatan prasangka. Perbaikan adalah tanda dosa, kenapa harus ada tanda dosa? Karena hakikatnya semua manusia diliputi oleh ruang dan waktu materi, secara duniawi membutuhkan proses untuk menuju kesempurnaan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib menggunakan diksi As-Sholah (perbaikan), sebab dalam perbaikan merupakan sarana untuk diri mencapai tujuannya. Hanya dengan perbaikan infrastrukutur memberikan kemudahan diri menjalani proses menuju paripurna kemanusiaan. Manusia bergerak untuk mencapai puncak sejati, sementara dunia adalah wadah fatamorgana.

Puncak pencapaian hakikat kita adalah di akhirat. Seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang melontarkan kemenangan (Fuztu bi Rabbil Ka’bah) pada saat kepala beliau tersambar sebilah pedang beracun.  Tidak ada kesuksesan sejati di dunia ini, lontaran kemenangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebab akan meninggalkan dunia dan menyatu dengan alam abadi. Sementara dunia menawarkan iklan yang tiada habisnya, jika dengan posisi jabatan dan kekayaan sudah merasa sukses maka sudah tidak ada lagi upaya untuk berusaha lagi. Sesorang sudah mencapai jabatan tinggi namun masih  ingin jabatan yang lebih tinggi lagi dengan usahanya, kekayaan melimpah masih menginginkan kekayaan dengan kerja kerasnya. Tidak ada tujuan dan pencapaian sejati di dunia ini.

Kemudian penggunaan diksi az-zaman (waktu) karena waktu adalah makhluk yang berwujud sarana untuk menyempurnakan manusia, begitu banyak manusia yang mencapai paripurna diwadahi oleh waktu, dan begitu banyak manusia yang hina dina juga diwadahi oleh waktu. Tergantung pemanfaatan waktu, jika dibawah kekuasaan waktu manusia hanya bermalas malasan. Malas belajar, maka pasti waktu menjawab dengan kebodohan, malas bekerja waktu akan menjawab dengan kemiskinan. Jika waktu manfaat dengan semangat belajar, waktu pun akan membalas dengan kesuksesan.

Dunia adalah tempat kita berproses baik dan memperbaiki diri. Proses perbaikan selalu beragantung pada waktu dan ruang. Hanya alam metafisik yang tidak diiliputi oleh waktu dan ruang. Kita hidup di dunia beraktivitas selalu dibantu oleh waktu, bahkan makanan pun berproses karena waktu, buah-buahan matang itu karena waktu, masak nasi pun ikut aturan waktu, terlambat atau mendahului waktu sedikit saja akan mengakibatkan kerusakan. Begitupun matahari berotasi mengikuti aturan waktu, planet, semua benda galaxi bahkan makhluk partikel yang sangat kecilpun diikat dan mengikuti aturan waktu. Manusia menjadi berkualitas atau tidak pun juga diikat oleh waktu.

Kemudian “Wa Idza Astaula Al-Fasad Ala Az-Zaman Wa Ahlihi Fa Ahsana Rojulun Az-Zhonna Bi Rojulin Faqod Garrara”. Artinya : “Apabila kerusakan (hal yang menjauhkan diri dari allah) yang menguasai waktu dan penghuni zaman itu, dan seseorang yang berbaik sangka kepada seseorang maka dia sedang tertipu”.

Larangan ber-su’uzhon karena kita diliputi waktu dan berada dalam zona proses. Kezholiman yang belum berbentuk wujud tindakan namun sudah berbuah dosa adalah prasangka buruk. Tolak ukur menilai seseorang baik adalah dia yang berproses menuju pada kebaikan, bukan mengukur pada kebaikan dan kejahatan yang dimilikinya. Sebab Allah lebih mengetahui makhluk-Nya ketimbang manusia yang menilai sesama makhluk. Manusia hanya bisa menilai orang dari lahirnya, selebihnya adalah penilaian Allah.

Penggunaan diksi Al-Fasad (Kerusakan) karena jiwa manusia hakikatnya suci berasal dari Allah yang Maha Suci, lalu dengan sentuhan duniawi menodainya dan itu disebut Fasad. Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyeru untuk ber-su’uzhon kepada manusia yang berbuat fasad dalam proses. Dengan proses itu dia menjadi rusak. Lalu membiarkan orang lain menipu atau membiarkan orang lain berproses dalam kerusakannya dengan berbaik sangka juga adalah kezholiman.

Motto dalam islam mengajari kita bahwa “Jika ingin sempurna, maka ajaklah orang lain juga  menyempurna”. Syaratnya ingin sempurna maka tidak berdiam diri jika ada keburukan dan mendukung penuh jika menunjukkan kebaikan. Proses yang baik dan buruk semua diliputi oleh waktu, waktu adalah wadah untuk menyempurna, jangan lalai dalam naungan waktu. Wajar orang berburuk sangka kepada kita, sebab tidak kelihatan usaha keras untuk baik, justru kita memperlihatkan tanda proses menuju pada kehancuran.

Inti pesan ini adalah jika perbaikan (As-Sholah) yang menguasai waktu maka kita harus berbaik sangka, namun jika Al-Fasad (pengrusakan) yang menguasai waktunya maka harus berburuk sangka. Menempatkan dua kekuatan pransangka ini adalah menghargai waktu dan menghargai proses pada orang lain.*

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

*Tulisan ini adalah ringkasan Serial Syarah Nahj Al-Balaghah oleh Ust. Akbar Saleh, kajian ini dilaksanakan setiap hari minggu di Pesantren Khatamun Nabiyyin dan telah berlangsung selama lima tahun

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top