Connect with us

Kitab Turath Identitas Keilmiahan Islam di Nusantara

Artikel

Kitab Turath Identitas Keilmiahan Islam di Nusantara

Surah Al-Fathir ayat 32

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Artinya:
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

Makna Auratsna Al-kitab merujuk pada warisan ulama dalam bentuk Turath (manuskrip). Turath adalah karya klasik ulama yang erat kaitannya dengat kitab kuning. Selain sebagai langkah awal wadah pembaharuan yang mengubah tatanan sosial menuju kemodernan,  Turath juga adalah identitas bangsa.

Kitab Turath memiliki tiga kekuatan rujukan, yaitu Kitab Turath al-Qur’ani, Kitab Turath al-Haditsi dan Kitab Turath al-Fikrati. Turath sering berwujud Kitab kuning/gundul yang memiliki ciri-ciri kertas dan cetakan yang tidak menarik, tidak menggunakan harakat, tidak menuliskan nama pengarang di depan sampul, selalu dimulai dengan basmalah & diakhiri hamdalah, dalam satu bundel terdapat beberapa naskah, pengarang tetap dalam kesucian ketika menulis karyanya dan melakukan shalat sunnah sebelum menulis.

Jika dibandingkan dengan karya tulis hari ini, memiliki ciri yang jauh berbeda seperti Nama penulis sudah jelas tertera di depan sampul buku, kertas luxe sebagian berwarna, hard cover, penerbit dan tempat terbit jelas, nomor halaman jelas, dalam satu bundel kitab hanya terdapat satu naskah. Sementara Turath mengandung beberapa naskah pembahasan. Seperti Aqidah, Fiqih, Akhlak/ Tasawwuf, Al-Qur’an juga Al-Hadits. Selain itu Kitab Turath ditulis ulama  dengan bahasa Arab, Kitab ditulis dari kitab asal (Arab) dalam bahasa Melayu aksara Jawi, juga ditulis independen oleh ulama Melayu dengan aksara Jawi.

Kekayaan khazanah Islam dalam bentuk kitab Turath memiliki makna penting dan strategis terutama sekali dalam tiga proses dinamika keagamaan yakni pembentukan (formulasi), pemeliharaan (konservasi), serta perkembangan (development) tradisi keberagamaan yang unik dan khas di dunia Melayu. Fasilitator yakni para da’i awal menjadikan kitab Turath sebagai rujukan utama (Islam Jawa dan Sumatera) dipengaruhi oleh kitab-kitab karya ulama Timur Tengah. Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abd al-Rauf al-Singkili, Yusuf al-Makassari al-Bantani, Abd al-Samad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari dan lainnya yang kesemuanya telah hadir dengan berbagai karya kitab-kitab Turath.

Mediator yang ditransmisikan dari pusat-pusat keislaman mancanegara maupun yang diproduksi secara genuine sebagai hasil karya para tokoh Islam Melayu maka pada puncak tahapan ini dapat dikatakan telah “berhasil disepakati” suatu formulasi keberislaman alam Melayu yang secara ideologis beraliran Ahlus Sunnah Waljamaah dengan pemahaman dan praktek fiqh yang mengakomodir keempat mazhab: Malikiyah, Hanafiyah, Hanbaliyah, dan Syafi’iyah.

Konservator yaitu selain sebagai pedoman tata cara keberagamaan, kitab Turath difungsikan juga oleh berbagai kalangan umat Islam Melayu, terutama sekali kalangan pesantren, sebagai referensi nilai universal dalam mensikapi segala tantangan kehidupan. Ketika Kitab Turath digunakan secara permanen, dari generasi ke generasi, sebagai sumber bacaan utama bagi masyarakat pesantren yang cukup luas, maka sebuah proses pemeliharaan tradisi yang unik itu tengah berlangsung.

Kitab warisan ulama nusantara harus dikaji kembali, dan dijadikan sebagai standar kelulusan pada setiap lembaga pendidikan. Hari ini Brunei Darussalam mempelajari naskah Jawi mulai dari anak kecil, sehingga kitab-kitab Turath karya asli Ulama Nusantara mereka manfaatkan sebaik-baiknya, mempelajari kitab Turath pada setiap jenjang pendidikan. Sementara putra nusantara sendiri mengabaikan itu.*

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

*Tulisan ini adalah ringkasan Seminar Internasional Trend Pemikiran Islam di Asia Tenggara, Jum’at 28 Desember 2018 di Aula Kampus Jl. Kayumanis Barat Matraman Jakarta Timur. Pembicara pada seminar ini adalah Prof. DR. Harapandi Dahri. M. Ag dari Kolej University Perguruan Ugama (KUPU) Brunei Darussalam.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top