Connect with us

Kekuatan Hati, yang Sedang-Sedang Saja

Artikel

Kekuatan Hati, yang Sedang-Sedang Saja

“Laqad Ullika Biniyath Hadza Al-Insan Bad’atun Hiya A’jabu Ma Fihi”.

Artinya: “Telah digantungkan segumpal daging dengan urat sarafnya manusia, dan itulah yang paling dahsyat apa yang didalamnya” (Sayyidina Ali bin Abi Thalib)

Ada perbedaan antara hati secara biologis dan hati secara maknawi, yang dimaksud dalam perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah hati secara maknawi. Hati biologis terletak pada dada manusia, sementara hati secara maknawi tidak mampu ditampung oleh tubuh manusia. Sebab hati maknawi memiliki yang jangakuan lebih luas bahkan bisa setara dengan alam semesta. Begitu juga dengan jiwa, letak jiwa manusia bukanlah pada tubuh manusia, melainkan berada di luar tubuh manusia. Mustahil tubuh yang sangat kecil mampu menampung kekuatan jiwa yang begitu luas.

Sang guru berkata: “Bahkan jiwa yang suci nan kuat mampu mengendalikan alam semesta, fenomena alam semesta tunduk atas perintah jiwa”, mampu untuk memadamkan cahaya matahari, membalikkan arah angin, mengembalikan ombak, menjinakkan api, mengendalikan petir bahkan mampu mengendalikan siang dan malam. Seperti Nabi Muhammad Saw dengan mukjizatnya mampu membelah bulan, mampu mengeluarkan air dari jari jemarinya. Demikian pula dengan Nabi Musa as mampu membelah lautan atau Nabi Ibrahim as mampu menjinakkan api dan masih banyak lagi mukjizat para Nabi yang mengendalikan alam semesta.

Kekuatan seperti ini diberikan oleh Allah sebagai wilayah takwiniyah(kepemimpinan atas semesta) ketika jiwa sudah mencapai paripurna. Namun dalam penggunaannya Nabi dan para Waliyullah terlihat jarang menggunakan, hal ini karena penggunaannya hanya untuk kemaslahatan umat manusia. Sebab menahan turunnya hujan atau menahan siang dan malam akan berdampak buruk kepada makhluk lainnya. Banyak makhluk yang membutuhkan air dan siang untuk kelangsungan hidupnya, sehingga Nabi Ibrahim as hanya menggunakan mukjizatnya pada saat dibutuhkan. Seperti saat dibakar oleh raja Namrudz, atau Nabi Musa menggunakan mukjizatnya pada saat terkepung oleh pasukan Fir’aun.

Perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib selanjutya adalah:

Wa Dzalika Al-Qolbu Wa Lahu Mawaddun Min Al-Hikmati Wa Adhdaadu Min Khilaafihi”.

Artinya: “Dan Itu, Dia Memiliki Hikmah (Fadhilah, Keutamaan, Akhlak Dan Ilmu) Dan Memiliki Potensi Mencipta Akhlak Rozilah”

Hati dikatakan sehat ketika menempati posisi tengah, hati yang terlalu dermawan adalah boros, terlalu kikir adalah tamak, terlalu berani adalah nekat, terlalu penakut adalah pengecut. Hati selalu mencari titik tengah dari akhlak al-karimah yang berlebihan dan akhlak al-rozilah yang berlebihan. Seperti tubuh yang sehat pasti dalam kondisi normal pertengahan, kadar darah naik pasti buruk, kadar darah turun juga buruk, suhu tubuh naik panas, suhu tubuh turun juga akan sakit. Tubuh membutuhkan keseimbangan untuk tetap sehat.

Selanjutnya “Fain Sanaha Lahu Ar-Raja’ Adzallahu At-Thoma’, Wa In Haaja Bihi At-Thoma’ Ahlakahu Al-Hirsu, Wa In Malakahu Al-Ya’su Qotalahu Al-Asaf”.

Artinya: “Apabila padanya ada harapan berlebihan (over optimis) maka dia dihinakan dengan ketamakan, dikuasai oleh tamak maka dihinakan oleh keserakahan. Apabila padanya ada frustasi (over pessimis) maka akan dihinakan oleh penyesalan”

Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa dalam islam harapan dan kecemasan adalah dua sayap menuju keharibaan Allah. Penuh harap atas perbuatan baik mendapat ganjaran pahala dan cinta Allah, namun dalam waktu dan objek yang bersamaan juga ada kecemasan, cemas karena semua tindak tanduk kita mendapat balasan murka dan siksa Allah. Sepintas lalu hal ini kotradiksi sebab berada dalam satu objek, namun jika diperhatikan lebih detail malah saling mendukung adanya.

Harapan yang memacu diri melakukan perbuatan baik yang diridhoi oleh Allah, demikian pula dengan adanya kecemasan juga memacu diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dimurkai oleh Allah, tujuannya sama yaitu meraih Cinta Allah. Sebagai contoh, mendorong mobil dan menarik mobil, keduanya tidak bertentangan namun saling membantu, harapan menarik dan dibantu oleh kecemasan dengan dorongan, tujuannya hanya satu yaitu mobil bisa jalan.

Dalam hal duniawi, harapan itu baik namun akan mendatangkan ketamakan ketika berlebihan. Harapan yang tidak terkendali (Over Optimis) memberikan semangat kerja, semangat yang kokoh  untuk mencapai target. Setelah mencapai target, harapan yang tidak terkendali ini akan menciptakan target baru dan berusaha mati-matian mencapai target selanjutnya. Setelah tercapai, over optimis ini akan mencipta harapan baru lagi dan harga mati untuk mencapai itu, begitu seterusnya tanpa ada henti.

Akibatnya, semua usaha dan fokus kerja diarahkan untuk memenuhi nafsu target dirinya sendiri, tidak memperdulikan sesama manusia. Persetan dengan orang miskin, masa bodoh dengan anak yatim, ada tetangga yang menjerit kelaparan tetap sibuk mengejar target, ada tetangga yang putus sekolah tetap sibuk memuaskan diri dengan harapan, banyak janda-janda tua yang tidak terurusi tetap sibuk dengan kerja yang tiada henti.  Hingga akhirnya malahirkan ketamakan dalam diri. Hirsun adalah tamak, dan Para Nabi juga tamak dengan bahasa “Hirsun Alaikum” (Nabi sangat serakah untuk kebaikan ummat) bukan serakah untuk dirinya semata.

Kebalikannya adalah kecemasan yang berlebihan (Over Pesimis) menciptakan rasa penyesalan. Seseorang yang telah dilanda rasa ini, mengakibatkan penyesalan sangat tinggi. Ingin berbuat sesuatu, namun dalam dirinya selalu ada sugesti kegagalan dan akhirnya pesimis, apa yang ingin diperbuat tidak pernah terlaksana. Rencana sehebat apapun, sistem yang teroganisir untuk mencapai target tetap tidak akan terlaksana karena rasa takut akan mengalami kegagalan. Dalam fikirannya hanya ada pertimbangan gagal, gagal dan gagal akhirnya gagal karena tidak bergerak, lalu kembali menyesal.

Contoh lain keinginan melamar seorang gadis tidak akan terwujud jika terlalu banyak pertimbangan, wajah, postur tubuh, kerjaan, “uang panai” senantiasa menjadi alasan untuk tidak melamar, akhirnya gagal. Hal ini seperti yang  oleh Sigmund Freud tentang Parapraxis atau keseleo lidah. Dikatakan bahwa terjadinya kesalahan bukan karena sifat alamiah, melainkan titik fokus yang berlebihan pada kesempurnaan. Artinya hasil yang maksimal adalah titik fokus sehingga tidak memperhatikan faktor-faktor yang lain, akibatnya terjadi kekakuan, ketakutan, grogi, demam panggung, dan akhirnya gagal.

Semua tindak tanduk over pessimis akan melahirkan kegagalan, lebih celaka lagi gagal tanpa berbuat. Over pessimis melahirkan kegagalan, dan kegagalan yang paling gagal adalah gagal tanpa berbuat. Kegagalan ini melahirkan penyesalan yang amat dalam, dalam keseharian hanya diwarnai dengan penyesalan dan penyesalan tanpa ada gerakan dan dobrakan untuk berbuat. Disaat orang lain sudah mencapai bulan, ia masih sibuk menghitung variable kata seandainya, andaikata, umpamanya dan jikalau.*

Oleh: Farham Rahmat

(Santri Khatamun Nabiyyin)

*Tulisan ini adalah ringkasan Serial Syarah Nahj Al-Balaghah oleh Ust. Akbar Saleh, kajian ini dilaksanakan setiap hari minggu di Pesantren Khatamun Nabiyyin dan telah berlangsung selama lima tahun.

1 Comment

1 Comment

  1. Alan

    Januari 4, 2019 at 9:31 am

    Keren. Link web sureq.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top