Connect with us

Golput Dapat Mereformasi Demokrasi

Artikel

Golput Dapat Mereformasi Demokrasi

Kekecewaan tidak sama dengan sikap masa bodoh, gerakan golput justru menggambarkan keberlanjutan tekad untuk berkontribusi terhadap proses demokrasi yang sebenarnya.

Demokrasi yang kita pelajari di bangku sekolah adalah demokrasi oleh, dari dan untuk rakyat. Itu adalah aforisme yang sungguh menarik dan terdengar sangat meyakinkan. Kita menerimanya tanpa banyak keraguan, saat beranjak dewasa secara kolektif kita semakin percaya bahwa kitalah yang memegang kekuasaan sebenarnya di pemerintahan.

Sungguh, ilusi tentang kekuasaan (dari demokrasi) benar-benar sempurna dan menyihir sehingga saat kita sedang benar-benar tak berdaya sekalipun (di dalam sistem demokrasi), tak juga pernah terpikir untuk mempertanyakan apakah demokrasi perwakilan yang menjadi model mapan ini adalah model yang paling sedikit mudaratnya untuk dibiarkan mengatur dirinya sendiri.

Kita mungkin terdorong untuk mengatakan iya, tapi tanyalah mereka, kelompok rentan yang hidup di awal abad 20, saat suara mayoritas menentang hak-hak mereka dan membuat mereka merasa tersisih. Bahkan bayangkan sekarang ini saat warga berhadapan dengan pegawai pemerintah mencari pelayanan –mulai dari manajer NHS (semacam kantor BPJS di Inggris) hingga petugas imigrasi di Heathrow (bandara), lalu tanyakanlah the Coetzeean question: “Siapa melayani siapa? Siapa sebenarnya pelayan dan siapa Tuan? Apakah Anda merasa punya hak? Apakah Anda masih merasa ini pemerintahan Anda?

Ada yang salah dalam demokrasi seperti kita praktikkan selama ini. Demokrasi yang sama yang selama ini pemerintah kita (Inggris) getol untuk mengekspornya ke mana-mana. Katakanlah demokrasi jauh lebih baik dari otokrasi dan teokrasi. Tentu, tapi tanpa perlu menjadi kaum moral relatifis, apakah itu cukup? Kita memberi syarat bahwa demokrasi adalah cara yang paling sah untuk terjadinya perpindahan kekuasaan, tanpa pernah lagi mempertanyakan sumber legitimasi (sah) itu datang dari mana bahkan saat demokrasi sudah mencekik lemas para pengkritik sistem dan membuat mereka tersingkir keluar.

Orang-orang yang memilih abstain atau golput selama ini dituduh melakukan serangan langsung, sebuah dosa karena melawan pemerintahan sah melalui prinsip-prinsip demokrasi, sehingga orang-orang ini harus dikeluarkan dari diskursus publik soal politik.

Kalau kamu ingin menantang status quo, argumen penolak golput mengatakan, kamu harus menggunakan hak pilih untuk melakukan itu, dan berada di dalam sistem. Menjadi bagian dari parpol, bergabung atau mendukungnya dengan membela dan memilih dalam pemilu, menang dan kemudian melalui mandat suara itu mempengaruhi perbaikan. Jika hanya bersikap abstain atau merusak suara, kamu dianggap membuang kesempatan dan karenanya dianggap apatis, sembrono dan tak bertanggung jawab. Bersama kami (peyakin sistem berlaku) atau menjadi musuh kami. Bagaimana, apakah terdengar demokratis?

Demokrasi totalitarian sesungguhnya adalah sebuah kontradiksi.

Datangnya kembali Pemilu, perbedaan politik dan ideologi yang semakin tak bisa diketahui di antara parpol, membuat kita harus berjuang susah payah mencari kandidat yang bisa mewakili aspirasi filosofis kita sebagai individu. Biasanya, setiap parpol memancarkan beberapa prinsip yang bisa kita anggap sangat saling bertentangan. Diam bukan berarti menerima dan justru bisa kontraproduktif.

Mereka yang yang ingin terlibat dalam proses demokrasi tentu saja tidak boleh berkata: kami tak suka dengan semua partai politik, dan bentuk barunya, tak ada satu pun yang bisa dipilih. Sebuah pemungutan suara oleh Mori pada 2001 menunjukkan bahwa 30% dari pemilih mau memilih jika di kotak suara tersedia pilihan “tak ada yang cocok dipilih” sebagai opsi, yang kemudian menginspirasi Steve Stevenage membuat partai bernama No Candidate Deserves My Vote.

Keadaan protes ini melahirkan pertanyaan apakah masuk akal menyalahkan rendahnya hasil pemilu semata-mata pada apatisme. Kekecewaan, pada akhirnya tidak sama dengan sikap masa bodoh.

Saat sinisisme dan ketidakpuasan menjalari tubuh-politik bertemu dengan perasaan lapar terus-menerus untuk memperpanjang kekuasaan yang telah menjadi motivasi para politisi yang sulit dihentikan, kondisi ini menyuburkan akar-akar intoleransi di satu sisi, dan lahirnya sebuah revolusi di sisi lain. Dan mungkin itu menjadi keuntungan bagi publik jika revolusi menjadi pilihannya. Dengan sepenuh rasa terima kasih hal itu dapat dicapai dengan mudah dengan hasil yang mematikan. José Saramago menunjukkan bagaimana caranya.

Di dalam Ensaio sobre a Lucidez (Essay on Lucidity, or Seeing), sebuah cerita bersambung bagian dari karya laris Saragamo yang paling sering disalahpahami yaitu Ensaio sobre a Cegueira ([Essay on] Blindness), Saramago menulis tentang sebuah kota kosmopolit dimana penduduknya mulai muak dengan ketidakpedulian parpol yang semakin keterlaluan terhadap urusan-urusan warga. Kemudian, dengan suatu cara yang tak diketahui penguasa, para warga negara secara kolektif memutuskan menggerakan revolusi diam-diam yang akan memaksa para politisi untuk membuka mata. Caranya dengan menjadi golput, tidak sekali saja tapi berkali-kali.

Tentu saja suara golput biasanya dianggap suara rusak, dan karenanya tidak dihitung saat perhitungan suara terutama saat menghitung suara pemenang, dan mari kita akui, suara pemenang itulah yang selalu didengar. Namun bagaimana jika 80% penduduk pemilih memutuskan menjadi golput? Bagaimana bisa parapolitisi dan bahkan dunia bisa mengabaikannya?

Terlalu mudah dan tentu salah, untuk menganggap cerita Saragamo itu sekadar fabel politik belaka. Yang terpenting, keadaan golput seperti cerita Saragamo tidak pernah terjadi dalam sejarah demokrasi. Tapi, sudah pasti itu adalah senjata terbaik untuk memperbaiki demokrasi dengan segala tetek-bengeknya yang semakin kaku. Itu berarti suara golput harus menjadi mayoritas yang cukup untuk menghukum setiap Parpol dan Capres agar kehilangan perwakilan dan suara secara serius.

Menjelaskan situasi kekecewaan yang bisa terjadi pada warga, golput sebagai lawan dari abstain sebenarnya menggambarkan adanya semacam tekad perlawanan yang berkelanjutan untuk terus terlibat di dalam proses demokrasi dengan cara mengoreksinya dari status quo yang menunggangi demokrasi.

Perlawanan itu memaksa para politisi yang selama ini acuh tak acuh dan masa bodoh saat berkuasa untuk berpikir ulang dan berhati-hati dalam berjanji dan melayani warga. Perlawanan golput itu membuat warga selalu bisa menguji pondasi demokrasi perwakilan yang rapuh dan hasrat Hobbesian sebagian warga untuk menyerahkan kontrak politik yang semakin tak setara bahkan tak adil kepada pemerintah.

Di atas itu semua, golput adalah cara penting memeriksa apakah benar rakyat masih berada sebagai inti dari demokrasi atau demokrasi hanya sekadar mitos menenangkan belaka sehingga kita hanya menyerahkan ilusi tentang kemutlakan berkuasa kepada permainan politik culas dan sewenang-wenang setiap musim suksesi. Jika rakyat benar masih ada di hati demokrasi, golput akan membuat politisi itu tertampar dan menahan diri, jika ternyata rakyat hanya isapan jempol saja, golput akan membuat demokrasi berhenti dan diperbaiki. Apa pun itu, melalui golput kita menghadirkan kebutuhan besar terhadap revolusi kepada publik.

Sebagai pemilih absah, saya bermaksud untuk golput. Terima kasih kepada saling-keterhubungan yang diciptakan oleh jaringan media sosial sehingga kita bisa menjadi golput dengan angka lumayan besar. Saya sangat mendorong pembaca untuk mempertimbangkan menjadi golput.*

*Tulisan ini adalah Artikel https://www.theguardian.com/ yang berjudul Blank votes would reform democracy ditulis oleh Balaji Ravichandran terbit pada 17 april 2010 dan diterjemahkan oleh Hertasning Ichlas

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top