Connect with us

Filsafat dan Bencana

Artikel

Filsafat dan Bencana

Filsafat, terkadang disebut juga sebagai ilmu kausalitas. Ini biasa disebut dengan tasmiyyatul kulli bil juz’i. Yakni, menamai keseluruhan dengan salah satu dari bagiannya, atau menamai judul dengan salah satu sub judul. Dan, itu wajar dan dibolehkan dalam dialog keseharian.

Filsafat disebut ilmu kausalitas sebab filsafat adalah ilmu yang tidak hanya mendedah akibat-akibat dari sebuah fenomena, tapi juga melacak sebab-sebab dari setiap fenomena. Ini penting, agar kita terhindar dari penghakiman yang non-objektif dan cenderung politis atas sebuah fenomena.

Salah satu tema dalam kausalitas adalah tema jenis² sebab, diantaranya adalah sebab tunggal dan sebab pengganti.

Terkadang, sebuah fenomena hanya lahir dari satu sebab, dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Tanpa sebabnya, fenomena tersebut tidak akan ada. Ini yang disebut dengan sebab tunggal. Semisal, ‘hilangnya dahaga’ adalah sebuah fenomena yang hanya terwujud dengan satu sebab, yaitu ‘meneguk air’. Pun juga dengan fenomena ‘basah’, sebabnya cuman satu, yaitu ‘air’.

Terkadang pula, sebuah fenomena lahir dari beragam sebab. Semisal, api adalah sebab ‘panas’. Akan tetapi, ‘panas’ bisa jadi ada, kendatipun api tiada. Sebab yang lain, semisal cinta atau nafsu menggantikan peran api dalam mewujudkan panas. Ini disebut dengan sebab pengganti.

Masih dalam tema klasifikasi sebab, ada yang disebut dengan sebab sempurna dan sebab tidak sempurna. Sebab sempurna adalah sebab yang keberadaannya meniscayakan keberadaan akibat (fenomena).

Sebab sempurna bukan satu sebab, tetapi akumulasi dari beragam sebab. Misalnya, kebakaran adalah fenomena yang niscaya terjadi manakala sebab-sebabnya telah ada secara sempurna, seperti api, keringnya objek yang dibakar, kualitas api lebih besar dari kualitas objek yang dibakar, api bersentuhan dengan objek dan lain-lain.

Adapun sebab tidak sempurna yaitu, sebab yang keberadaannya tidak meniscayakan keberadaan akibat. Misalnya, keberadaan kayu tidak serta-merta mewujudkan kursi kayu. Dibutuhkan sebab-sebab yang lain.

Lantas, bagaimana dengan bencana, semisal gempa, tsunami, longsor dan lain-lain, yang menimpa daerah tertentu? Apa yang menjadi sebab terjadinya bencana tersebut?

Para teolog yang sudah terkontaminasi dengan politik, tentu akan berkata, bencana tersebut disebabkan menjamurnya kemusyrikan di daerah terkait, dikarenakan Tuhan menolak pemimpin di daerah atau negara tersebut. Atau yang lebih lucu lagi, bencana tersebut dikarenakan kriminalisasi ulama, karena pemerintah tidak membantu pemulangan bang toyib.

Bagi kami para pegiat filsafat, jawaban di atas seperti menyiram luka dengan air garam, semakin menambah luka dalam duka. Lebih menyakitkan dari luka fisik. Dalam logika, ini disebut blaming the victim, kecenderungan untuk menyalahkan korban. Tentu, sebuah kesalahan berpikir.

Adakah tempat di dunia ini yang suci dari kemusyrikan? Tentu tidak ada. Dunia hampir disesaki para penyembah berhala. Mesjid, banyak dihuni para penyembah berhala dalam bentuk bidadari-bidadari perawan. Mereka menyembah Tuhan hanya modus untuk mendapatkan kamar syurga plus bidadarinya. Mereka mengenal Tuhan hanya sebagai ‘koki’ makanan syurgawi atau ‘penyedia jasa’ hiburan dan perempuan.

Belum lagi tingkah brutal para pemekik takbir. Mereka menggedor-gendor pintu rumah orang, lalu mendobraknya, dan memaksa penghuni rumah menghentikan ritual yang diyakininya. Kekerasan berhias ornamen agama.

Apakah kemusyrikan itu? Kemusyrikan yaitu engkau menomor duakan Tuhan;engkau mengetahui perintah Tuhan, tapi engkau melaksanakan keinginan diri sendiri; engkau mengetahui apa yang diinginkan Tuhan, tapi engkau bertingkah sesuai inginmu sendiri. Kemusyrikan yaitu engkau bertindak eksploitasi, sedang Tuhan memerintahkan mu agar bertindak harmonis.

Maka, segala bentuk eksploitasi adalah kemusyrikan. Korupsi, menebar dusta, meviralkan hoakx, menyulut kebenciaan, meretakkan persatuan, membodohi umat, dan lain-lain, semuanya adalah kemusyrikan. Lantas, adakah tempat dan orang yang suci dari kemusyrikan? Maka teruslah memohon jalan yang lurus, ihdinasshirotol mustaqim, minimalnya 5 kali sehari.

Bencana adalah fenomena yang terjadi karena sebab-sebabnyanya telah sempurna. Sebabnya bukan sebab tunggal, bukan pula sebab tidak sempurna. Bisa jadi, kemusyrikan ada, tetapi bencana tidak terjadi. Israel adalah negara yang penuh atmosfir kemusyrikan, tapi bencana semisal tanah longsor, jarang terjadi. Tahu kenapa, karena kondisi tanahnya padat dan kering.

Aceh adalah daerah yang dijuluki serambi mekkah, hukum Islam diberlakukan, tapi tetap saja bencana tsunami terjadi. Tahu kenapa? Karena memang kondisinya berada pada daerah rawan tsunami, pinggir pantai, plus seabrek sebab-sebab lain, hingga menjadi sebab sempurna.

Walhasil, dalam filsafat, bencana terjadi karena adanya sebab sempurna dari bencana tersebut. Mungkin, kemusyrikan adalah salah satu sebab sempurnanya. Yang pasti, kemusyrikan bukan satu-satunya sebab (sebab tunggal) dari bencana.

Bahkan bisa jadi, kemusyrikan digantikan oleh kesholehan sebagai penyebab bencana. Bukankah sejarah telah menampilkan, betapa hamba-hamba Tuhan yang sholeh diuji dengan pelbagai bencana. Sehingga, bencana bukan lagi sebuah adzab, tetapi nikmat dan bukti cinta Tuhan pada hamba-Nya. Tuhan ingin si hamba naik kelas.

Adalah hal yang sulit melacak sebab sempurna dari sebuah bencana. Kemusyrikan adalah sebab abstrak, tak terlacak. Kondisi geografis dan rusaknya alam adalah sebab real yang terlacak.

Jangan tafsirkan bencana dengan tafsir-tafsir abstrak yang cenderung menambah luka para korban bencana. Kata Sa’di, anak cucu Adam adalah satu tubuh, bila ada satu bagian tubuh yang terluka, seluruh tubuh akan merasa sakit. Maka jangan kau tambah luka pada tubuhmu yang terluka.

Salam kemanusiaan.

Oleh: Alfit Sair, Lc (Direktur Lyceum Philosophia Institute)

Continue Reading
You may also like...
1 Comment

1 Comment

  1. Andi khaidir

    Desember 31, 2018 at 2:05 am

    Mantappl.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top