Connect with us

Falsafah Doa Akhir Tahun (2)

Artikel

Falsafah Doa Akhir Tahun (2)

Do’a Akhir Tahun

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على محمد وآل محمد

يَا مُقَلِّبَ اْلقُلُوبِ وَاْلاَبْصَارِ، يَا مُدَبِّرَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، يَا مَحَوِّلَ الْحَوْلِ وَاْلاَحْوَالِ، حَوِّلْ حَالَنَا إِلَى أَحْسَنِ الْحَالِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Artinya:

“Ya Allah, Curahkan selalu Shalawat-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad” 

“Duhai Dzat Yang Membolak-balikkan hati dan pandangan, duhai Dzat Yang Mengatur malam dan siang, duhai Dzat Yang Merubah daya dan semua keadaan, Rubahlah keadaan kami pada keadaan yang paling baik dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi”. 

Selanjutnya kata Qolbun dan kata yang serumpun dalam Al-Qur’an disebut lebih dari 200-an kali. Diantaranya adalah Qolbun yang sakit atau “fi Qulubihim maradh“, Qolbun yang keras atau “Qulubuhum Qashiyah“, Qolbun yang tertutup terkunci “khatamallah ‘ala Qulubihim“, Qolbun yang buta “walakin ta’ maa alqulub“, Qalbun yang lalai “aghfalna qalbahu“, Qolbun yang sehat “illa Man ataa Allah bi qalbin Salim“, Qalbun yang kembali kepada Penciptanya “wa jaa a bi qalbin munib“, dan masih banyak kondisi hati yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Banyaknya kondisi hati ini, maka manusia mestinya berusaha dan berdo’a agar kondisi hati tetap dalam kemuliaan dan terarah. Untuk mencapai itu, maka perlu adanya bimbingan dari Al-Qur’an dan Rasulullah Saw.

“Ya Mudabbira Al-Laili Wa An-Nahar”. Artinya: “Wahai yang mengatur malam dan siang”. “Wa ja’alna al-laila libasa, waja’alna an-nahara ma’asya” merupakan dua simbol fenomena alam semesta yang mewakili semua fenomena alam yang mempakkan dan memanifestasikan Sifat Allah Yang Mahakuasa Mengatur seluruh alam semesta. Keterikatan manusia dengan alam ini melahirkan berbagai macam keadaan dalam dirinya, seperti yang telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya.

Falsafah siang adalah kekuatan cahaya yang memberi makna kehidupan dan menampakkan sesuatu yang tidak terlihat diwaktu gelap, sehingga waktu itu tepat untuk beraktivitas. Begitupun dengan malam menjadi keterjauhan dari cahaya sehingga dijadikan sebagai pakaian dan selimut untuk beristirahat, semua ini di bawah aturan Allah.

Terakhir adalah “Ya Muhawwila Al-Hauli Wa Al-Ahwal” kekuatan pun juga selalu mengalami perubahan, “La Haula Wa La Quwwata Illa Billah”, sejatinya kekuatan hanya ada pada Allah. Namun kita berharap kekuatan yang Allah amanahkan kepada kita selalu menguat dan dihadapkan kepada hal-hal yang positif. Contoh kecil fenomena ini dalam kehidupan adalah ketika bermain sepakbola kekuatan seorang anak berlipat ganda, namun pada saat menghafal pelajaran malah menjadi loyo seperti baterai handphone yang telah lowbat.

Mengangkat mata pada saat sholat subuh sungguh sangat berat, namun mata sangat kuat ketika melihat game di handphone. Sangat kuat melakukan urusan pribadi tapi tak berdaya ketika harus terlibat membantu urusan umum. Sudah seharusnya  dari perubahan kekuatan ini, seorang manusia mesti memohon kepada Allah agar senantiasa ditambah dan diarahkan kepada hal-hal yang mulia yang diridhai oleh-Nya. Hingga dalam proses belajar, beribadah dan beraktiftas untuk kepentingan diri dan orang lain tetap terarah pada hal-hal yang mulia.

Ahwal adalah kondisi yang sering berubah-ubah dalam dunia materi. Setiap saat kita mengalami perubahan situasi dan kondisi. Inilah yang membuat banyak manusia bermasalah sehingga lalai dari tujuan penciptaan. Allah-lah yang selalu merubah ke arah yang lebih baik saat seorang hamba terbawa arus yang tidak baik.

Dari awal doa “ya Muqallibal Qulub” hingga “ya Muhawwilal Haul wal Ahwal” yang merupakan kunci dan faktor utama kegagalan sekaligus kesuksesan dalam menjalani hidup di dunia. Karena itu dirangkum dengan permohonan inti  “Hawwil Haalana Ila Ahsani Al-Hal“, artinya “Ya Allah, rubahlah kondisi kami kearah kondisi yang terbaik”. Apapun aktivitasnya, beribadah, belajar, bekerja, berkhidmat dan sebagainya selalu diarahkan kepada Allah. Pandangan lebih luas dan istiqamah dalam kebenaran menuju kesempurnaan, segala aktivitas siang malam di bawah Cahaya Allah Yang Mudabbir Allail wa Annahar. Dberikan tenaga yang prima dan kekuatan yang hebat menuju kepada-Nya, dan diberikan kondisi dan momentum untuk senantiasa berkhidmat kepada-Nya sehingga menjadi hamba yang terbaik di sisi-Nya.

Semoga pada malam ini moment tahun baru kita berdo’a dengan penuh hikmat kepada Allah, tahun kemarin tahun 2018 kondisi hati yang masih gelap gulita dan terbolak balik dalam ketidakjelasan, tahun 2019 Allah merubah hati kita menjadi mulia terang menderang. Siang dan malam yang kita lewati selama 365 hari lamanya banyak penyimpangan yang kita lakukan, dan semoga tahun besok siang dan malam kita menjadi lebih berkah, bermanfaat, dan terarah. Begitupun dengan kekuatan kita lebih banyak kita gunakan dalam hal-hal yang kurang produktif atau yang negatif pada tahun 2018, kita berdoa semoga tahun 2019 Allah merubah kekuatan itu menjadi super dalam melakukan hal-hal yang berkualitas dan produktif dalam menghamba dan beribadah kepada-Nya.

Do’a mampu merubah bencana menjadi berkah. Bencana yang terjadi hakikatnya adalah pergerakan semesta yang menata dirinya untuk menyempurna. Sehingga bisa dikata bahwa fenomena-fenomena alam adalah fenomena alam yang memang harus terjadi, tidak terhindarkan berdasarkan hukum takwini dan kausalitas yang ada padanya. Seperti kejadian banjir besar pada masa Nabi Nuh, ini adalah kejadian alam yang harus terjadi makanya Allah memberikan peringatan kepada Nabi Nuh dan umatnya untuk pergi ke pegunungan. Pada kondisi saat itu, tsunami tidak akan terbendung karena alam sudah meniti gerakannya.

Sehingga orang yang layak mendapat azab karena kekufurannya ditimpakan kepadanya kejadian alam. Orang-orang baik yang tertimpa musibah dapat menjadi penghapus dosa, sekaligus menjadikannya pembelajaran dan sarana untuk makin bersabar dan menyempurna. Dalam arti kata tidak ada pembangkangan yang menjadi penyebab adanya bencana alam, melainkan hukum alam memang demikian adanya.

Pada umumnya ada banyak orang baik yang juga tertimpa musibah atau bencana. Namun kaum yang diazab dengan bencana alam karena pembangkangannya sebagaimana dalam Al-Qur’an bukan karena faktor dosanya yang meniscayakan munculnya bencana alam tapi  dibuat menetap atau dituntun ke tempat bencana alam tersebut. Tapi sekali lagi, bukan semua yang tertimpa bencana adalah azab baginya dan hal ini tergantung perspektif dan tinjauannya

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

*Tulisan ini adalah Orasi Muhasabah dan Refleksi akhir tahun oleh Ust. Akbar Saleh, Beliau menjelaskan ini dalam syarah Do’a Akhir Tahun di Auditorium Khatamun Nabiyyin Jakarta, pada Senin 1 Januari 2019

1 Comment

1 Comment

  1. Iank

    Januari 4, 2019 at 4:52 pm

    Mantap

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top