Connect with us

Eksistensial di Persimpangan Jalan

Artikel

Eksistensial di Persimpangan Jalan

Malam yang hening, dingin, bulan yang terang tetap setia menemani musim semi tahun ini. Tepat di jendela kamarnya Reno duduk memandangi langit malam itu, entah apa yang dipikirkan. Akhir-akhir ini ia lebih memilih sendiri. Kebiasaannya itu hadir setelah menyelesaikan kuliahnya dua bulan yang lalu. Tak lama dari keterjagaanya memandangi langit malam, handpone Reno bergetar sebuah panggilan singkat (miscall) pandangannya pun beralih ke handponenya. Tak sempat mengangkatnya, sebuah pesan Instagram muncul di time line handponenya.

“Ren, bisa nggak kita ketemu besok”. Sebuah pesan dari seorang perempuan teman kampusnya bernama Lara.

Ya. Lara nama panggilnya, ia seorang mahasiswi semester tingkat akhir di kampus Jurusan Sastra Bahasa Inggris, tepat satu jurusan dengan Reno. Lara adalah orangnya pendiam ketika bersama buku dan aktif berbicara ketika bersama teman-temannya.

Lara seorang perempuan “kutu buku”, kadang buku yang dibacanya sampulnya kusut akibat tangannya selalu bersentuhan dengan buku itu.Skripsinya pun berbulan-bulan tak  terjamah akibat  membaca buku.Waktunya habis bersama  lembaran buku. Ia terhanyut dengan teks yang ia baca setiap harinya.

“Ngak bisa Ra’ soalnya aku lagi nggak di kota, aku sedang di kampung  halaman”. Keterjagaannya memandangi bulan pun punah, matanya pun lebih sibuk memandangi layar handponenya dan jarinya dengan gigih membalas pesan.

“Kapan kamu balik?”.

“Mungkin dua hari kedepan, memangnnya kenapa Ra’?”

“Aku mau bicara sama kamu, penting”

“Och iya tungguin aku hari selasa pagi, aku pasti balik”. Pasca teks itu, pesan Reno tidak dibalas.

Selepas membalas chat instagram Lara, Reno menunggu pesan balasan namun tak kunjung dibalas. Dalam benaknya, ada apa dengan Lara? Apakah Lara ingin meminjam buku atau ia membutuhkan Reno untuk konsultasi  hasil koreksi skripsinya oleh dosen pembimbing. Tapi sebelumnya ia  langsung bicara dengan Reno ketika ingin melakukan itu. Tapi kali ini berbeda.

Sejak malam itu, Reno sibuk memikirkan Lara. Seakan  kakinya ingin beranjak ke kota tempat ia kuliah yang berjarak 80 km dari kampungnya. Pikirannya terusik oleh Lara. Beban pikirannya pun bertambah setelah berapa bulan ini kegundahan hatinya akibat pertanyaan  dari keluarga, kerabat, teman karibnya  setelah selesai dari kampus. Pertanyaan itu: kapan kerja, kapan menikah? Sebuah pertanyaan menghadirkan ‘tuhan-tuhan jahat’ yang pernah dibunuh oleh Wilhelm Nietzsche .

Dua hari setelahnya, Reno tiba di kota. Ia tiba pagi seperti yang dijanjikan kepada Lara. Baginya tepat janji adalah sebuah wujud ‘eksistensial’ manusia dalam mencapai sebuah makna  hidup. Itulah akibatnya janji harus ditepati. Berbeda dengan politisi, ketika janjinya bertebaran di mana-mana tak satupun ditunaikan. Itulah  sebabnya Reno punya komitmen besar pada ‘janji’ dan menjadi pembeda (Difference) dengan para politisi bejat kebanyakan.

Pagi itu, Reno menunggu telpon Lara, namun tak kunjung ada. Tapi sebaliknya  Lara  menunggu kabar Reno. Siang hari, handponenya pun bergetar, sebuah panggilan masuk. Panggilan yang selama empat jam dinantinya, akhirnya datang. Sebuah panggilan dari Lara.

“Halo..!! Ren kamu di mana?”

“Aku di rumah kontrakan Ra’, kamu sendiri dimana?, kapan kita ketemu?”. Dua pertanyaan bertubi-tubi menandakan Reno tidak sabar bertemu dengannya. Dua hari itu, di pikirannya hanya ada nama Lara Ayu Dinan.

“Aku di kampus Ren, kalau bisa sekarang”. Nada  suara paru tak seperti biasanya, ia tak ceria. Hal itu membuat Reno semakin risau, terkadang berpikir sesuatu terjadi pada Lara, namun ia berusaha berfikiran positif.

“Oke, tungguin aku ya, jangan kemana-mana aku segera kesitu” Ia langsung bergegas menaiki motornya. Motor tua yang setia menemani Reno kuliah selama enam tahun mencari ilmu di kota itu. Bayangan Reno perlahan hilang meninggalkan jejak, yang ada hanya kepulan asap tebal  keluar  dari knalpot motornya.

Setibanya di kampus, Reno mendatangi salah satu tempat biasa  bertemu dengan Lara. Namun ia tak mendapati seorangpun  di tempat tersebut. Kampus pada saat itu sepi, hanya ada satu dua orang yang terlihat.Kampus terasa kosong tapi pikirannya penuh dengan bayangan sosok wanita yang ditemuinya. Handponenya berdering.

“Ren, aku di ruangan kelas gedung H 1”

“Oh iya aku kesitu sekarang”

Setelah panggilan itu terputus, Reno berlari menuju kelas. Langkah kakinya ditemani bayangan Lara. Setibanya di kelas itu, ia mendapati Lara sendirian menatap bangku dan meja yang kosong. Kedatangan Reno tak membuat Lara hilang akan keterjagaannya. Reno menatap mata Lara, tapi mata itu memandangi sesuatu yang kosongdan jiwanya seakan melihat sesuatu yangtak  terjangkau dengan mata  kepala manusia.

“Ra’ kamu kenapa?” Tanya Reno.

Pertanyaan itu tak dijawab. Hanya sebuah tatapan kosong  menatap Reno. Tujuh detik Lara menatap Reno dengan tatapan kosong,  wajah yang datar, memaksa Reno terdiam sejenak.

Beberapa detik berselang tak ada suara. Ruang yang kosong seakan tak berpenghuni. Akhirnya lara memulai bersuara.

“Ren aku nggak tau harus  bagaimana? Aku tak tahu mau memilih  jalan yang mana untuk berjalan di atas jalan hidup yang sebenarnya’”. Dengan suara paruh, wajah yang pucat. Ia tak bersemangat. Lesuh, jauh berbeda dari Lara yang dikenalnya.

Reno terdiam, tak tahu maksud pertanyaan itu. Ia lebih memilih diam dan membiarkan Lara terus berbicara sampai  menemukan maksud yang tersembunyi di balik pertanyaan itu.

“Aku bingung Ren, ada dua pilihan di akhir perjalan saya di kampus ini” Kata Lara dengan parau.

Reno  masih berdiri terdiam ia  terus menatap wajahnya. Lalu ia menimpali “Jalan apa Ra’ aku tidak paham?” kata Reno. Lara menghela nafas yang panjang.

“Aku diperhadapkan pada pilihan yang sulit untuk melangkah, haruskah kupilih jalan individualisme meneruskan penyelesaian kampus yang menjadi tangung jawab terhadap kedua orang tuaku, tentunya  mengabaikan tanggung jawab sosial di kampus ataukah tetap melanjutkan tanggung jawabku di lembaga ini. Bagiku itu  tentu sangat menentukan pembentukan peradaban kampus kelak” Wajahnya lesu berharap cemas di hadapan Reno.

“Dan aku tahu begitu pun juga  kau, posisi dan tanggung jawab yang kumiliki sangat sulit, dengan kondisi mahasiswa seperti ini” lanjut Lara.

Reno masih diam menatap Lara. Hatinya bergumam, bahwa apa yang dialami Lara sama seperti apa yang dialaminya dua tahun lalu, ketika desakan keluarga untuk secepatnya selesai dari kampus. Reno memahami apa yang dirasakan Lara saat ini.

“Ren, aku harus bagaimana? Dan aku tak tahu harus berbuat apa?” Tanya Lara sedikit mendesak. Reno berusaha menunjukkan sikap tenang,  sebuah senyuman ia tunjukkan kepada Lara agar semakin tak terbebani pikirannya.

“Ra’ kalau menurutmu kedua pilihan itu baik, maka kamu harus memilih salah satunya” kata Reno.

Lara memandangi wajah reno yang memancarkan senyum semangat untuknya. Tak terasa berkaca-kaca di hadapan Reno.

“Maksud kamu?” ia menimpali, memandang wajah pria yang selalu bersamanya di kampus.

“Iya, memilih salah satu jalan yang kita pilih, bukan berarti kamu manusia yang mengkhianati diri sendiri tapi, mencoba membuktikan pada dirimu dan orang lain bahwa manusia memiliki penafsiran yang berbeda terhadap objek realitas hidup yang dipilih” Kata Reno sembari tetap tersenyum memberi harapan.

Lara masih bingung dan mencoba merenungi yang disampaikan Reno. Hal itu ditunjukkan melalui wajahnya yang pucat menunduk, sesekali melihat ruang kelas yang kosong dan sesekali memandangi Reno. Air matanya seakan menetes. Melihat itu Reno mendekati dan menghayati ekspresi wajahnya. Betapa dalam ‘kegundahan’ merasuki perempuan yang dikenalnya lewat buku empat tahun silam.

Ruangan itu hening, keduanya terdiam. Reno tetap memandangi Lara, sebaliknya Lara memandangi daun yang berjatuhan di luar kelas.

“Menurutmu?” tanpa sadar keduanya mengucapkan perkataan yang sama, dengan ekspresi wajah terkejut karena hal itu.

“Menurutmu Ren, apakah aku harus tetap melanjutkan tanggung jawab di kampus ini?”

“Kalau menurutmu itu sesuai dengan objektifikasi pengetahuanmu, maka lanjutkanlah?” Reno menjawab, lalu melanjutkan “Aku kira kamu tahu bahwa setiap pengetahuan manusia punya konsekuensi logis terhadap setiap tindakannya dan setiap pengetahuan punya nilai masing-masing” jawab Reno

“Ra’ kamu harus buktikan pada dirimu, kamu punya kemerdekaan untuk menerjemahkan pengetahuan terhadap realitas kehidupan di sekelilingmu dan dimanapun kamu berada” kata Renomencoba meyakinkan Lara dengan semangat erotisme. Namun Lara tetap memandangi Reno yang sedang meyakinkan dirinya.

“Kamu jangan terpengaruh ‘tuhan-tuhan modernitas’, terpenjara oleh ruang dan waktu demi memenuhi hasrat individual semata, gunakan seluruh pengetahuan yang kau baca selama ini dari berbagai buku untuk menjawab tantangan hidup di sekelilingmu temasuk di kampus ini, aku tahu  tanggung jawab ini hadir di akhir perjalananmu di kampus ini”

“Tapi apakah kamu yakin aku dapat melakukan itu semua?” Tanya Lara dengan suara memelas.

“Aku yakin kamu bisa, kamu harus tunjukkan pada sunior, junior, kerabat dan mahasiswa di kampus ini, bahwa perempuan juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki, agar perempuan tidak melulu menjadi makhluk inferior di atas superioritas laki-laki” Jawab Reno tetap tenang.

“Baiklah Ren, aku akan memutuskan akan tetap melanjutkan amanah itu, aku titahkan hidupku kepada manusia-manusia di perjalananku di kampus ini” kata Lara dengan suara yang tidak lagi memelas.

Lara bangkit, raut wajah sedihnya dihapuskan oleh Reno melalui sebuah keyakinan kepadanya.

“Tapi apakah kamu berada disampingku, menguatkanku untuk menjalani semua ini?” Tanyanya kepada Reno.

“Pasti aku akan berada di sampingmu untuk menguatkanmu, kalau pun aku tidak di sampingmu doaku senantiasa menyertai setiap hembus nafas dan langkahmu” Jawab Reno dengan sangat bahagia hingga air matanya pun seakan juga menetes. Reno  berhasil mengusap Jiwanya.

Sore itu cuaca terasa mendung dan dedaunan berjatuhan dari pohon menendakan musim kemarau enggan diganti oleh musim hujan. Begitu juga Reno hatinya tak tergantikan sosok perempuan yang dituliskannya di dalam buku. Kampus semakin sepi, angin bertiup kencang, mereka berdua meninggalkan ruang kelas itu, berjalan beriringan sesekali di sela langkah Reno melihat wajah Lara dari samping. Ia tak tahu apa yang ada dipikirannya. Tapi Lara tetap berjalan .

Sebulan lamanya di kampung halaman, Reno menunggu kabar Lara. Dihabiskan waktunya menulis tentang Lara. Tidak tahu apakah Reno menyimpan rasa pada Lara. Setiap malam ia menunggu kabar wanita yang selama ini bersamanya. Untuk menghadirkan di hidupnya ia menulis sosoknya dalam sebuah tulisan.

Kepribadian Reno berubah menjadi Don Quixote dalam karya sastra  terkenal di dataran Eropa abad pertengahan yaitu  sosok pria yang menghabiskan waktunya berimajinasi menjadi seorang kesatria. Tapi Reno berbeda, ia terobsesi menjadikan perempuan itu sesosok gadis di tengah perjuangannya melawan dominasi para lelaki terhadap perempuan, ia mengaktualkan imajinasi itu dalam bentuk teks.

Tak tahu, dengan melakukan itu apakah Reno terhanyut dalam pengalaman eksistensial, gerakan batinnya yang tertuang dalam fakta objektif dan bisa dipahami diluar dari dirinya. Yakni sosok perempuan itu memahami apa yang dialami Reno.

Malam telah larut, bunyi ketikan tombol terus berbunyi. Secangkir kopi disamping handponenya mulai dingin. Sesekali ia menghentikan ketikan jarinya dan menole ke handpone, berharap ada dari perempuan yang ia temui sebulan lalu. Malam demi malam ia lalui dengan hal yang sama, tapi  berbeda dengan malam ini, Reno tak ditemani rembulan yang memancarkan cahayanya.

Oleh: Engki Kurniawan 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

  • Artikel

    Jejak

    By

    Di kesunyian aku berjalan menujumu dengan tertatih tak mampu lagi ku memisahkan antara duri dan bunga...

  • Artikel

    Pemuda, Ambisi Kursi Parlemen dan Perubahan

    By

    “….kalau pemuda sudah berumur 21, 22 sama sekali tak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah...

  • Artikel

    Golput Menguntungkan Siapa?

    By

    Pasca runtuhnya rezim Suharto di tahun 1998 (orde baru) kemudian digantikan dengan era Reformasi persis membuat...

  • Artikel

    Luwu Raya, Bangsa Luwu dalam Pelukan Kosmos

    By

    Diskursus kebudayaan pada hakekatnya ialah suatu penyingkapan maknawi melalui kearifan lokal (local wisdom). Di setiap daerah...

  • Artikel

    Golput Dapat Mereformasi Demokrasi

    By

    Kekecewaan tidak sama dengan sikap masa bodoh, gerakan golput justru menggambarkan keberlanjutan tekad untuk berkontribusi terhadap...

To Top